1.12.2009

TUHAN SAYANG KITA

Senin, 12 Januari 2009, 12:07

TUHAN SAYANG KITA

Berfikir, berfikir, berfikir. Mencari siapa diri kita. Mengenali siapa diri kita sebenarnya. Berfikir dan merasa, berusaha mengenal Tuhan, dekat dengan Tuhan. Sudahkah kita kenal diri kita dan Tuhan?

Kenal diri kita dalam arti siapa dan untuk apa kita ada di dunia ini. Memikirkan dalam-dalam apa tujuan kita hidup di dunia ini. Siapa kita? Apakah kita yang bengis, sombong, pemarah dan suka iri serta tidak puas? Atau kita yang baik, sabar, rendah hati dan pemaaf? Gali lebih dalam. Siapa kita. Kupas satu persatu semua yang ada pada kita. Siapa teman kita, siapa orang tua kita, siapa saudara-saudara kita dan seterusnya. Terus gali dan cari semua yang berhubungan dengan kita. Terus cari sampai kita menemukan siapa kita. Carilah ujung tentang kita. Maka akhirnya kita akan terkejut bahwa siapa kita adalah makhluk Tuhan. Iya, kita adalah makhluk Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan untuk berfikir dan mengenalnya serta mencintainya.

Kenal Tuhan dalam arti kita sudah tidak mempermasalahkan apa yang Tuhan beri ke kita. Entah itu baik atau tidak baik menurut ukuran pemahaman manusia, yang ada semua yang Tuhan berikan ke kita adalah baik semua. Tuhan sangat sayang ke kita. Bahkan sayangnya Tuhan ke kita melebihi sayangnya orang tua kita . Tuhan sangat sayang ke kita. Bahkan ketika kita lupa kepada Tuhan, Dia masih saja menjaga kita. Namun, sering kita tidak sadar dengan ini. Pernahkah kita bayangkan jika Tuhan lupa kita satu menit saja? Apa yang akan terjadi? Siapa yang akan mengatur nafas kita? Siapa yang mengatur peredaran darah kita? Siapa yang akan memasukkan oksigen ke otak kita? Bisa-bisa kita kena stroke.

Ketika kita lupa Tuhan, apakah dia marah? Jawabnya tidak. Tuhan itu sayang sekali ke kita. Aku seorang muslim, apakah Tuhan mengambil rejeki orang-orang yang beragama selain muslim? Kenapa mereka masih kaya kalau mereka lupa Tuhan kita? Kenapa mereka banyak yang bahagia? Kenapa mereka masih diberi nafas? Jawabnya karena Tuhan sangat sayang ke kita. Bahkan kepada kita yang tidak seagama. Di dunia, sepatutnya tidak ada permusuhan. Nabi adalah contoh yang terbaik. Beliau mambalas keburukan dengan kebaikan. Kenapa kita tidak bisa seperti itu?

Yang membedakan kita dengan mereka yang non muslim kelak adalah saat kita berada di akherat. Karena saat itu adalah saat dimana urusan adalah hanya urusan kita pribadi dengan Tuhan. Dengan kata lain, seumpama Tuhan bos kita, kita sedang dimintai laporan tentang hasil kerja kita selama sebulan, seminggu, atau sehari. Sungguh, kalau kita mengenal Tuhan, semua akan mudah.

Waktu berumur tujuh tahun, aku berfikir. Aku punya orang tua, aku punya rumah yang aku tempati. Aku bisa melihat rumahku, aku bisa melihat rumput, bunga, aku bisa merasakan rasa manis, pedas, pahit. Seperti menghayal, karena di sekolah pelajaran agama barusan di ajari tentang hari kiamat, dan waktu bapak pulang dari Semarang, dia bawa buku bergambar tentang kejadian kiamat. Lalu aku menghubungkan kiamat dengan pikiranku. Saat semua planet saling bertabrakan, langit digulung seperti tikar, gunung seakan kapas yang beterbangan. Seperti apa manusia nanti? Alangkah kecil manusia. Gunung saja seperti kapas, lalu manusia seperti apa? Sempat terpikir pikiran konyol, kalau kiamat, aku akan naik helikopter dan terbang menghindar. Ternyata tidak bisa. Kita harus mati. Harus itu!! Tidak ada yang tersisa.
Masih dalam angan-angan anak usia tujuh tahun, terbayang bagaimana suasana dunia nanti. Betapa heningnya, karena semuanya sudah mati. Lalu, dimana kita? Aku tidak bisa menjawab. Timbul pertanyaan lagi, apakah aku akan bertemu orang tuaku lagi? Bertemu teman-temanku, adik dan kakakku? Ah, waktu itu aku tidak tahu jawabnya. Aku hanya takut dan bingung. Yang aku rasakan dunia seakan tidak kekal. Aku takut.

Anda mungkin pernah berpikir seperti itu. Ternyata itu wajar. Kita harus berpikir dalam-dalam tentang diri kita. Karena nanti ujung-ujungnya adalah hanya ada kita dengan Tuhan. Kembali lagi bahwa kita adalah makhluk Tuhan.

Tidak akan kemana, semua ujung-ujungnya ke Tuhan. Semua perbuatan kita setiap hari apakah tidak dicatat oleh dua malaikat dikanan dan kiri kita? Yakinlah, semuanya dicatat.

Jangan takut dengan masalah duniawi. Yakinlah bahwa Tuhan sayang kita. Apa yang menurut Tuhan baik belum tentu baik menurut kita, dan sebaliknya. Ketahuilah, Tuhan maha mengetahui yang terbaik bagi kita. Jangan ini dijadikan konflik yang seakan tidak terselesaikan.

Coba anda pikirkan kata-kata dibawah ini;
Pusat konflik kita yang umum adalah suatu rasa terpisah dari diri yang fitrah dan dari TUHAN sebagai sumber kebahagiaan kehidupan. sehinga kesendirian begitu pedih menyakitkan.

Tidak ada komentar: