Jum’at, 4 Januari 2008, 6:26
Aku berusaha menjalankan syariat agamaku dengan benar. Aku masih belum tahu banyak tentang agama. Belajar adalah wajib. Kalau tidak belajar tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Entah itu pertanyaan hati atau apalah. Hari ini aku akan berusaha untuk sabar, menjaga hatiku untuk tidak emosi, dengki dan semua penyakit hati apapun itu akan aku hindari. Kemarin aku mulai puasa untuk mengendalikan diriku. Memang cobaan selalu ada. Bukan berarti aku puasa masalah tidak muncul. Malah disitu kita dicoba untuk bisa berpegang teguh pada puasa yang kita lakukan.
Pelajaran yang bisa aku ambil kemarin adalah bahwa semua orang pada dasarnya sama. Mereka saling mempengaruhi. Jika kita “pengaruhi” mereka dengan hal-hal yang baik, maka baik pula yang akan dia ikuti. Tetapi jika kita “pengaruhi” mereka dengan hal-hal yang buruk, maka dia akan buruk juga. Aku pernah menulis ini pada bab sebelumnya. Tidak ada salahnya aku ulangi. Karena aku yang pelupa.
Tersenyum adalah senjata yang ampuh untuk “mempengaruhi” orang ke arah baik. Selain itu menyapa juga salah satunya yang bisa kita lakukan setelah tersenyum. Yang ketiga adalah berfikiran positif. Kita harus berfikiran positif pada setiap orang yang kita temui. Berfikiran positif bukan berarti tidak hati-hati. Berhati-hati dengan orang baru atau orang asing adalah penting. Agar kita tidak salah mengambil sikap, yang ujung-ujungnya merugikan kita. Contohnya, kita mudah percaya pada omongan orang yang belum kita kenal dengan baik. Sukur kalau dia tujuannya baik ke kita, bagaimana kalau dia bertujuan jelek? Umpamanya dia hendak menipu kita. Pada akhirnya kita sendiri yang rugi. Maka dari itu kita juga haru berhati-hati selain selalu berfikiran positif ke orang lain.
Pengalaman kata orang adalah guru yang baik. Aku tidak menyangkal itu. Itu benar, dan aku memang mengalaminya. Ada kendala yang sulit dihilangkan, ketika pengalaman telah menjadi guru, pada beberapa kasus masih ada saja orang yang tidak mengindahkan bahwa pengalaman itu guru yang baik. Contoh, jika kita membuat suatu kesalahan, maka kita akan mendapat hukuman atau akibat yang buruk bagi kita. Dari situ kita akan berfikir tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Sampai disini peran pengalaman berlaku, yaitu pengalaman digunakan untuk menimbang mana yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan kedepannya nanti. Namun sering juga peran pengalaman berhenti disitu saja. Karena sifat manusia yang cenderung membuat kesalahan dan tidak ingin disalahi orang, pengalaman akhirnya hanya sebatas kata pengalaman saja. Manusia akan lupa dengan pengalaman yang katanya guru yang baik itu. Manusia akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya atas dasar perasaan yang menipu mereka. Perasaan yang menipu itu tidak berasal dari hati atau dari otak. Melainkan itu adalah nafsu mereka yang membutakan mata hati mereka serta akal pikiran rasio mereka.
Semua manusia pasti dan akan mengalami ini. Mereka tidak bisa benar-benar terhindar dari ini. Namun mereka selalu mempunyai pilihan. Dan pilihan mereka ada dua, “iya atau tidak”. Banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal. Hanya waktu yang bisa menunjukkan apa yang akan terjadi pada kita nanti. Intinya berusaha untuk menghindari hal yang buruk dengan pemikiran yang sadar sesadar-sadarnya.
Aku memang tidak boleh sombong. Semua orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Kita punya apa yang tidak dia punya bukan berarti kita lebih baik dari dia. Kenapa? Karena keadaan itu akan dibalik saat itu juga, dengan kita tidak punya apa yang dia punya. Dengan begitu rasa sombong pada diri kita bisa sedikit dihilangkan.
Memberikan sesuatu dengan hati akan jauh berbeda dengan memberikan sesuatu dengan pikiran. Apa maksudnya? Gini, hati adalah apa yang kita rasakan. Sedangkan pikiran adalah apa yang kita pikirkan. Terus? Memberikan sesuatu jika dengan perasaan akan diterima oleh perasaan juga. Dengan kata lain memberi dengan hati akan diterima hati juga. Sedangkan memberikan dengan pikiran akan diterima pikiran juga, dan biasanya pikiran buruk. Pikiran adalah pamrih. Hati adalah ikhlas.
11:24
Begitu dahsyatnya imbas dari berfikiran positif. Aku duduk diatas bantalku yang tanpa bungkus. Kasurku sudah mulai tipis, sehingga harus aku tambahi bantal untuk menyangga pantatku yang tinggal tulang. Aku ingin bercerita disempit waktuku ini tentang apa yang barusan aku dapat. Bukan uang, bukan benda. Tetapi pelajaran dan rasa tenang yang lumayan. Berhubungan dengan manusia sangat menyenangkan. Mempelajari karakter manusia yang berbeda-beda adalah suatu tantangan yang mengasikkan. Kadang kita tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kita lakukan dengan orang itu. Tentunya kesan yang baik. Seakan tadi aku tidak sadari, aku menikmati saat bersosialisasi. Aku bingung bagaimana menggambarkannya. Aku Cuma mau katakan, berfikiran positif membawa semuanya kepada suasana yang menyenangkan. Gembira, ikhlas, dan ceria tercermin dari wajahku. Aku juga heran dengan ini. Aku menganggap semua orang adalah teman. Aku tidak menganggap mereka musuh. Rasa sungkan yang menjadi tembok penghalang seakan lenyap tanpa bekas saat aku anggap semua orang temanku.
Aku berusaha menjalankan syariat agamaku dengan benar. Aku masih belum tahu banyak tentang agama. Belajar adalah wajib. Kalau tidak belajar tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Entah itu pertanyaan hati atau apalah. Hari ini aku akan berusaha untuk sabar, menjaga hatiku untuk tidak emosi, dengki dan semua penyakit hati apapun itu akan aku hindari. Kemarin aku mulai puasa untuk mengendalikan diriku. Memang cobaan selalu ada. Bukan berarti aku puasa masalah tidak muncul. Malah disitu kita dicoba untuk bisa berpegang teguh pada puasa yang kita lakukan.
Pelajaran yang bisa aku ambil kemarin adalah bahwa semua orang pada dasarnya sama. Mereka saling mempengaruhi. Jika kita “pengaruhi” mereka dengan hal-hal yang baik, maka baik pula yang akan dia ikuti. Tetapi jika kita “pengaruhi” mereka dengan hal-hal yang buruk, maka dia akan buruk juga. Aku pernah menulis ini pada bab sebelumnya. Tidak ada salahnya aku ulangi. Karena aku yang pelupa.
Tersenyum adalah senjata yang ampuh untuk “mempengaruhi” orang ke arah baik. Selain itu menyapa juga salah satunya yang bisa kita lakukan setelah tersenyum. Yang ketiga adalah berfikiran positif. Kita harus berfikiran positif pada setiap orang yang kita temui. Berfikiran positif bukan berarti tidak hati-hati. Berhati-hati dengan orang baru atau orang asing adalah penting. Agar kita tidak salah mengambil sikap, yang ujung-ujungnya merugikan kita. Contohnya, kita mudah percaya pada omongan orang yang belum kita kenal dengan baik. Sukur kalau dia tujuannya baik ke kita, bagaimana kalau dia bertujuan jelek? Umpamanya dia hendak menipu kita. Pada akhirnya kita sendiri yang rugi. Maka dari itu kita juga haru berhati-hati selain selalu berfikiran positif ke orang lain.
Pengalaman kata orang adalah guru yang baik. Aku tidak menyangkal itu. Itu benar, dan aku memang mengalaminya. Ada kendala yang sulit dihilangkan, ketika pengalaman telah menjadi guru, pada beberapa kasus masih ada saja orang yang tidak mengindahkan bahwa pengalaman itu guru yang baik. Contoh, jika kita membuat suatu kesalahan, maka kita akan mendapat hukuman atau akibat yang buruk bagi kita. Dari situ kita akan berfikir tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Sampai disini peran pengalaman berlaku, yaitu pengalaman digunakan untuk menimbang mana yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan kedepannya nanti. Namun sering juga peran pengalaman berhenti disitu saja. Karena sifat manusia yang cenderung membuat kesalahan dan tidak ingin disalahi orang, pengalaman akhirnya hanya sebatas kata pengalaman saja. Manusia akan lupa dengan pengalaman yang katanya guru yang baik itu. Manusia akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya atas dasar perasaan yang menipu mereka. Perasaan yang menipu itu tidak berasal dari hati atau dari otak. Melainkan itu adalah nafsu mereka yang membutakan mata hati mereka serta akal pikiran rasio mereka.
Semua manusia pasti dan akan mengalami ini. Mereka tidak bisa benar-benar terhindar dari ini. Namun mereka selalu mempunyai pilihan. Dan pilihan mereka ada dua, “iya atau tidak”. Banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal. Hanya waktu yang bisa menunjukkan apa yang akan terjadi pada kita nanti. Intinya berusaha untuk menghindari hal yang buruk dengan pemikiran yang sadar sesadar-sadarnya.
Aku memang tidak boleh sombong. Semua orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Kita punya apa yang tidak dia punya bukan berarti kita lebih baik dari dia. Kenapa? Karena keadaan itu akan dibalik saat itu juga, dengan kita tidak punya apa yang dia punya. Dengan begitu rasa sombong pada diri kita bisa sedikit dihilangkan.
Memberikan sesuatu dengan hati akan jauh berbeda dengan memberikan sesuatu dengan pikiran. Apa maksudnya? Gini, hati adalah apa yang kita rasakan. Sedangkan pikiran adalah apa yang kita pikirkan. Terus? Memberikan sesuatu jika dengan perasaan akan diterima oleh perasaan juga. Dengan kata lain memberi dengan hati akan diterima hati juga. Sedangkan memberikan dengan pikiran akan diterima pikiran juga, dan biasanya pikiran buruk. Pikiran adalah pamrih. Hati adalah ikhlas.
11:24
Begitu dahsyatnya imbas dari berfikiran positif. Aku duduk diatas bantalku yang tanpa bungkus. Kasurku sudah mulai tipis, sehingga harus aku tambahi bantal untuk menyangga pantatku yang tinggal tulang. Aku ingin bercerita disempit waktuku ini tentang apa yang barusan aku dapat. Bukan uang, bukan benda. Tetapi pelajaran dan rasa tenang yang lumayan. Berhubungan dengan manusia sangat menyenangkan. Mempelajari karakter manusia yang berbeda-beda adalah suatu tantangan yang mengasikkan. Kadang kita tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kita lakukan dengan orang itu. Tentunya kesan yang baik. Seakan tadi aku tidak sadari, aku menikmati saat bersosialisasi. Aku bingung bagaimana menggambarkannya. Aku Cuma mau katakan, berfikiran positif membawa semuanya kepada suasana yang menyenangkan. Gembira, ikhlas, dan ceria tercermin dari wajahku. Aku juga heran dengan ini. Aku menganggap semua orang adalah teman. Aku tidak menganggap mereka musuh. Rasa sungkan yang menjadi tembok penghalang seakan lenyap tanpa bekas saat aku anggap semua orang temanku.
Tinggal bagaimana aku mengembangkan sikapku ini agar terus lebih baik dari sebelumnya. Semoga usahaku dalam pencarian ALLOH ini bisa memberikan hasil yang memuaskan. Aku akan terus mencari kebenaran. Aku akan terus mencari ketenagan hati. Kemantaban hati yang selama ini aku harapkan akan terus aku cari sampai aku mati. Aku, adalah si bodoh yang mencari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar