Jum’at, 28 November 2008, 06:45
CERITA DARI TOKO ELEKTRONIK
Cerita ini menggelikan. Tadi malam setelah pulang kerja dari heritage, aku berniat untuk membeli walk man. Maka aku pergi ke plasa gajah mada yang ada di sebelah selatan timur dari alun-alun kota malang. Masuklah aku ke sebuah toko elektronik. Ditoko tersebut terpajang berbagai macam alat elektronik mulai dari salon, TV, tape recorder, flash disk, mesin ketik elektronik, dan lain-lain. Seperti biasa ketika kita masuk ke sebuah toko, pelayan pasti akan menanyai kita. Begitupu juga aku. Dua orang wanita setengah baya yang merupakan pekerja di toko itu bertanya padaku mencari apa. Aku jawab aku mencari walk man. Lalu salah satu diantara mereka membawaku ke etalase bagian belakang tempat pemajangan berbagai macam merek walk man. Ada sony, aiwa, sunny, dan merek cina aku lupa namanya. Harganya pun bervariasi. 55 ribu sampai 500 ribu. Aku katakan pada pekerja itu aku mencari yang harganya antara 100 sampai 200 ribu saja. Karena uangku tidak cukup. Lagian aku juga hanya butuh radionya saja.Setelah sekitar seperempat jam memilih, aku putuskan membeli yang merek sunny dengan harga 235 ribu. Ketika hendak dibungkus, aku minta untuk mencoba dulu. Pas aku coba ternyata earphones-nya yang satu tidak menyala. Aku minta earphones yang baru. Dan dicarikan oleh mereka. Aku katakan mereka karena yang melayaniku waktu itu ada dua orang, yaitu dua orang wanita setengah baya tadi. Ternyata earphones yang aku minta tidak ada, alias habis. Aku minta earphones merek sunny, yang memang bawaan dari walk man itu. Tapi tidak ada. Ya, aku katakan saja pada merka aku tidak jadi beli. Aku cari yang lain saja. Mereka kembali bingung mencari referensi walkman lain dengan harga yang aku minta, antara 100 sampai 200 ribu. Namun tidak ada. Yang ada diatas 200 ribu dan itu pun mereknya bagus-bagus. Aku mikir-mikir, karena uangku lebih baik aku simpan untuk yang lain dari pada membeli walkman mahal.
Secara tidak sengaja aku melirik tape recorder yang ada di belakang etalase walkman. Aku lihat harganya kok lumayan murah. Sama dengan harga walkman. Ah, mending beli tape recorder saja kalo gitu. Aku menunjuk sebuah tape recorder yang modelnya lumayan lama. Seperti model saat aku masih SD dulu. Karena tempat memajangnya lumayan tinggi, datanglah pekerja lainnya. Dia laki-laki, orangnya lumayan berumur juga. Pikirku, toko ini kok tidak ada pekerja yang muda ya. Semua pekerjanya sudah tua-tua. Kelihatannya aku cocok dengan tape recorder yang aku tunjuk tadi. Harganya juga lebih murah, yaitu 180 ribu. Aku minta untuk dicoba. Kaset di setel, oke, lalu radio, juga oke. Tapi yang tidak oke tuningnya jika aku putar, jarum penunjuk angka gelombangnya tidak jalan. Berarti benang didalam yang berfungsi sebagai penggerak telah putus. Kembali lagi aku tidak jadi beli. Harus milih model yang lain. Saat aku melihat lihat model yang lain, aku baru sadar. Ternyata tape yang dipajang di etalase bagian itu memang model lama. Makanya harganya lumayang murah.
Tertarik aku dengan model kotak hitam dan salonnya tertutup oleh seng hitam bolong-bolong bundar kecil, mereknya MITSUBA. Sekalian saja aku pilih yang lama. Pikirku semakin lama semakin bagus. Ini karena aku lihat model yang baru, rasanya tidak srek. Dilihat dari bahan plastiknya sudah kelihatan. Kalo model lama bahan plastiknya kelihatan bagus dan anteb. Makanya aku lebih mantab pilih yang tua saja. Aku tanya harganya berapa. Ternyata harganya 225 ribu. Karena aku sudah bilang cari yang harganya 200 ribu aku tawar segitu. Mereka tidak mau. Kalo tidak mau 200 ya gak jadi lo mbak. Gapapa ta. Dia menjawab iya. Yadah kalo gitu aku pulang. Lalu aku pulang dengan harapan dipanggil lagi. Ternyata benar mereka memanggil lagi. Yadah mas, 210 ribu gimana. Tanpa mikir panjang aku iyakan saja. Iya wis. Aku kembali. Dalam hati aku mikir, apakah toko ini tidak laku ya. Karena barang-barang tua masih ada dan kondisinya juga sebenarnya layak diloakkan. Tapi masih dipajang di etalase. Atau hanya sebagai pajangan agar toko kelihatan penuh? Aku tidak tahu. Kalau iya begitu berarti aku adalah korban. Karena membeli barang yang bukan untuk dijual, tapi dipajang saja.
Setelah dibersihkan dari debu, aku minta untuk dicoba. Kaset oke, radio juga oke. Trus aku minta kardus pembungkusnya. Lha... di sini aku yang sangsi. Tape ini kira-kira diproduksi tahun 80an. Apakah masih ada kardusnya. Tapi aku diam saja, tidak tanya. Cuma aku minta kardus dari tape yang aku beli ini. Kembali mas yang tadi ke belakang mencari kardus pembungkus. Lumayan lama aku menunggu, dia tidak keluar-keluar. Kira-kira sepuluh menit dia datang dan berkata, maaf mas kardusnya tidak ada. Dalam hati aku berkata tuh.. kan benerkan yang aku pikirkan. Trus gimana dong. Kardus juga mempengaruhi daya jual lho.. bantahku. Ya maaf.., mungkin kardusnya hilang waktu pindahan dulu, katanya. Ternyata toko itu sudah sering pindah-pindah. Pokoknya aku minta bungkus. Ancamku. Masak aku pulang dengan membawa telanjang gini. Nanti dikira maling aku.
Akhirnya mereka memberiku tas plastik besar yang ukurannya jumbo. Lalu tape itu dimasukkan ke dalamnya. Aku mikir lagi, kalo gini tidak ada bedanya aku beli di loakkan. Tapi gapapa. Itung-itung aku ibadah. Mereka juga butuh uang. Yang di dapat dari pelanggan. Aku pulang sambil membawa tas hitam besar mereka juga minta maaf untuk kejadian ini. Aku jawab iya. Dalam perjalanan pulang aku mikir, kenapa toko itu menjual barang yang rusak ya.. Tapi esoknya aku sadar dan bertanya lagi, kenapa aku mau membeli barang yang rusak ya..
Dan jawabnya adalah, rusak bukan berarti tidak puas dan baru bukan berarti puas.
Ternyata ini masalah kepuasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar