Minggu, 7 Desember 2008, 06:31
Kalau kita dilahirkan dan bisa memilih, mana yang akan kita pilih. Menjadi anaknya orang kaya atau menjadi anaknya orang miskin? Mungkin kebanyakan orang akan memilih menjdi anaknya orang kaya, dan sebagian kecil akan memilih menjadi anaknya orang miskin. Atau bahkan semua memilih menjadi anaknya orang kaya, dan tak satupun memilih menjadi anaknya orang miskin.
Kenapa? Banyak orang memilih menjadi kaya? Apakah kaya adalah sebuah pilihan? Entahlah. Yang aku tahu kaya adalah impian dan setiap hari orang membanting tulang hanya untuk menjadi kaya. Aku juga kadang berfikir, dengan apa yang aku lakukan dan kerjakan setiap hari, yaitu bekerja. Bekerja tujuan umumnya adalah mencari uang. Mencari uang tujuan umumnya agar kaya, dan tujuan khususnya agar bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri.
Hidup di dunia ini memang penuh dengan tuntuan. Namun dibalik tuntutan sebenarnya kita punya hak. Sesekali aku membayangkan masa kecilku yang penuh dengan harapan dan keceriaan walaupun aku dalam keadaan orang tua yang pas-pasan. Anak kecil pada dasarnya adalah suka bermain, sehingga dasar pemikiran mereka adalah keceriaan. Aku baru berfikir sekarang. Dan semakin lama kita akan merasa beda. Dulu, ketika lebaran tiba, alangkah senang hati ini. Kesan yang ditimbulkan seperti masuk kedalam mimpi jauh sebelum kedatangannya. Sekarang, lebaran adalah mikir. Mikir mau pulang bawa apa, terus ngumpulin uang untuk dibuat sangu keponakan-keponakan. Sehingga cenderung kita merasa tertekan mengatur persiapan-persiapan menjelang lebaran.
Yah, ini mungkin fase yang harus dihadapi. Entah kedepan apa lagi yang akan aku temui. Yang pasti aku yakin kelak pasti berbeda. Rasa ini dan pandangan ini.
Jalani saja. Karena hidup selalu berubah seperti waktu yang terus berubah. Maka, carilah pegangan yang kuat agar kamu bisa tetap dalam hidup yang tidak tetap ini. Agar kamu bisa menjadi orang yang berpendirian dan beridealisme. Sehingga tidak terombang ambing bagaikan laron yang terbang kemanapun cahaya nampak.
Aku akan terus berusaha. Hilangkan kata mau atau ingin atau harus. Ganti dengan kata akan. Dengan begitu kadar kenyataan berubah naik menjadi 90%.
Kalau kita dilahirkan dan bisa memilih, mana yang akan kita pilih. Menjadi anaknya orang kaya atau menjadi anaknya orang miskin? Mungkin kebanyakan orang akan memilih menjdi anaknya orang kaya, dan sebagian kecil akan memilih menjadi anaknya orang miskin. Atau bahkan semua memilih menjadi anaknya orang kaya, dan tak satupun memilih menjadi anaknya orang miskin.
Kenapa? Banyak orang memilih menjadi kaya? Apakah kaya adalah sebuah pilihan? Entahlah. Yang aku tahu kaya adalah impian dan setiap hari orang membanting tulang hanya untuk menjadi kaya. Aku juga kadang berfikir, dengan apa yang aku lakukan dan kerjakan setiap hari, yaitu bekerja. Bekerja tujuan umumnya adalah mencari uang. Mencari uang tujuan umumnya agar kaya, dan tujuan khususnya agar bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri.
Hidup di dunia ini memang penuh dengan tuntuan. Namun dibalik tuntutan sebenarnya kita punya hak. Sesekali aku membayangkan masa kecilku yang penuh dengan harapan dan keceriaan walaupun aku dalam keadaan orang tua yang pas-pasan. Anak kecil pada dasarnya adalah suka bermain, sehingga dasar pemikiran mereka adalah keceriaan. Aku baru berfikir sekarang. Dan semakin lama kita akan merasa beda. Dulu, ketika lebaran tiba, alangkah senang hati ini. Kesan yang ditimbulkan seperti masuk kedalam mimpi jauh sebelum kedatangannya. Sekarang, lebaran adalah mikir. Mikir mau pulang bawa apa, terus ngumpulin uang untuk dibuat sangu keponakan-keponakan. Sehingga cenderung kita merasa tertekan mengatur persiapan-persiapan menjelang lebaran.
Yah, ini mungkin fase yang harus dihadapi. Entah kedepan apa lagi yang akan aku temui. Yang pasti aku yakin kelak pasti berbeda. Rasa ini dan pandangan ini.
Jalani saja. Karena hidup selalu berubah seperti waktu yang terus berubah. Maka, carilah pegangan yang kuat agar kamu bisa tetap dalam hidup yang tidak tetap ini. Agar kamu bisa menjadi orang yang berpendirian dan beridealisme. Sehingga tidak terombang ambing bagaikan laron yang terbang kemanapun cahaya nampak.
Aku akan terus berusaha. Hilangkan kata mau atau ingin atau harus. Ganti dengan kata akan. Dengan begitu kadar kenyataan berubah naik menjadi 90%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar