Kamis, 27 Desember 2007, 20:03
Ayo berfikir...
Berfikir akan masa depan. Kemana kita setelah ini? Akankah kita terus seperti ini? Setiap hari hanya membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berarti? Jangan terlena pada keadaan ini. Mari terus berusaha. Terus berusaha untuk meraih yang terbaik. Terus berusaha untuk sadar dan sabar. Walaupun usaha itu sangat sulit untuk dicapai.
Menjadi lebih maju dalam pemikiran adalah wajib. Jangan terus seperti ini. Selalu mengikuti keinginan hati dn perasaan. Pakailah otak. Pakailah pikiran. Agar kita bisa rasional. Terus terang aku sedang kacau. Sedang tertekan oleh keadaan. Tetapi janganlah itu menjadikanku seorang yang mudah putus asa.
Ingin kucurahkan rasaku yang menyiksa ini sepuasnya pada setiap orang. Pertanyaannya, apakah itu suatu cara yang baik? Bukankah semua orang juga punya masalah mereka sendiri-sendiri? Mungkin juga masalah mereka lebih berat dengan yang kita hadapi. Percayalah. Percayalah wahai aku, bahwa aku bisa melewati keadaan ini dengan berhasil. Jatuh bangun dalam melaluinya memang suatu hal yang harus dilewati. Banyak pengalaman masa lalu yang bisa kita jadikan pelajaran pribadi. Tidak usah muluk-muluk kita tujukan untuk orang lain. Kita berhasil pada diri kita saja sudah sangat beruntung sekali. Kenapa harus susah-susah memikirkan orang lain berubah? Pikirkan dulu diri kita agar berubah. Baru kemudian orang lain. Ngomong seperti ini mudah. Prakteknya yang sulit. Kita harus punya kemauan yang keras. Serta perasaan yang ikhlas. Penyakit hati sangat sulit untuk diatasi, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.
Melihat manusia seutuhnya adalah memikirkan dan mengamati keberadaan mereka secara meyeluruh. Baik itu tingkah laku jiwa mereka dan tingkah laku raga mereka. Apakah anda pernah berfikir bahwa hubungan jiwa dan raga itu dekat sekali? Sehingga kita sulit membedakan mana yang jiwa, mana yang raga.
Aku punya teman yang bisa diambil sebagai contoh. Dia adalah seorang gadis yang cantik jelita, namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Tubuhnya yang indah ibarat gitar spanyol yang bunyinya mengalun merdu. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang begitu lebat, sehingga telinganya seakan hilang tak terlihat tertutupi rambut itu. Bunga mempunyai suara yang indah pula. Banyak laki-laki yang tergila-gila padanya. Kebanyakan dari mereka mabuk akan kecantikan paras si Bunga yang seakan tiada duanya. Oh bunga yang begitu cantik. Kuning kulitnya membuat setiap mata laki-laki yang memandang hanyut dalam imajinasi tingkat tinggi. Entah ini imajinasi racun atau madu. Tetap saja laki-laki tidak memperdulikan racun atau madu.
Pakaian si Bunga selalu menarik perhatian. Payudaranya, pinggulnya, pahanya, pantatnya selalu ditonjolkan seakan mengundang semua laki-laki yang melihat untuk memegang. Tidak terkecuali aku. Dalam diam aku juga ikut menikmati payudara dan pinggul si Bunga dalam imajinasiku
Laki-laki yang lain juga ikut. Bapak guru juga ikut. Semua laki-laki juga ikut. Tidak ada yang luput. Tubuh si Bunga sudah jadi barang konsumsi bersama kesenangan kaum laki-laki. Siapa yang dosa?
Bagaimana dengan tanggapan si Bunga ketika ditanya tentang ini? Dengan enteng dia menjawab “apa? Tentu saja aku tidak setuju dong..!!! emangnya aku cewek apaan??” he..he.. itulah jawaban si bunga. Ternyata dia masih punya pikiran waras. Tapi kenapa perilakunya seperti orang yang tidak waras? Dia suka memamerkan lekuk tubuhnya di tempat umum. Terus, perilaku di atas apa bedanya dengan tidak punya harga diri? Dia sudah mengobral tubuhnya secara tidak langsung untuk dinikmati siapa saja laki-laki yang melihat.
Tahukah engkau wahai saudara-saudaraku? Jauh didalam hatinya, si Bunga ingin sekali dihargai, ingin dianggap penting, ingin menjadi pusat perhatian. Tapi dia memilih cara yang salah. Yang lebih menyakitkan lagi, dia melakukan cara salah itu dengan sadar. Sadar kalau ini salah dan akan membuat dosa. Namun si Bunga tetap memilih cara ini. Karena dengan melakukan itu, ada perasaan bangga di hatinya. Aneh kan?!
Itulah. Jiwa si Bunga sudah tidak waras. Jiwa si Bunga memerintah untuk berbuat salah, sehingga raganya juga mencerminkan apa yang jiwanya perintah.
Sebagai laki-laki, aku kasihan melihat kaum perempuan yang suka memamerkan keindahan tubuh mereka. Tidak tahukah mereka? Bahwa memperlihatkan lekuk tubuh mereka di tempat umum tidak akan mengangkat harga diri mereka? Hal itu malah akan menjatuhkan harga diri mereka. Seakan mereka tidak punya harga diri. Laki-laki memandang remeh mereka. Maka jangan salahkan laki-laki jika mereka dilecehkan. Itu semua karena hasil dari perbuatan mereka sendiri.
Ayo berfikir...
Berfikir akan masa depan. Kemana kita setelah ini? Akankah kita terus seperti ini? Setiap hari hanya membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berarti? Jangan terlena pada keadaan ini. Mari terus berusaha. Terus berusaha untuk meraih yang terbaik. Terus berusaha untuk sadar dan sabar. Walaupun usaha itu sangat sulit untuk dicapai.
Menjadi lebih maju dalam pemikiran adalah wajib. Jangan terus seperti ini. Selalu mengikuti keinginan hati dn perasaan. Pakailah otak. Pakailah pikiran. Agar kita bisa rasional. Terus terang aku sedang kacau. Sedang tertekan oleh keadaan. Tetapi janganlah itu menjadikanku seorang yang mudah putus asa.
Ingin kucurahkan rasaku yang menyiksa ini sepuasnya pada setiap orang. Pertanyaannya, apakah itu suatu cara yang baik? Bukankah semua orang juga punya masalah mereka sendiri-sendiri? Mungkin juga masalah mereka lebih berat dengan yang kita hadapi. Percayalah. Percayalah wahai aku, bahwa aku bisa melewati keadaan ini dengan berhasil. Jatuh bangun dalam melaluinya memang suatu hal yang harus dilewati. Banyak pengalaman masa lalu yang bisa kita jadikan pelajaran pribadi. Tidak usah muluk-muluk kita tujukan untuk orang lain. Kita berhasil pada diri kita saja sudah sangat beruntung sekali. Kenapa harus susah-susah memikirkan orang lain berubah? Pikirkan dulu diri kita agar berubah. Baru kemudian orang lain. Ngomong seperti ini mudah. Prakteknya yang sulit. Kita harus punya kemauan yang keras. Serta perasaan yang ikhlas. Penyakit hati sangat sulit untuk diatasi, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.
Melihat manusia seutuhnya adalah memikirkan dan mengamati keberadaan mereka secara meyeluruh. Baik itu tingkah laku jiwa mereka dan tingkah laku raga mereka. Apakah anda pernah berfikir bahwa hubungan jiwa dan raga itu dekat sekali? Sehingga kita sulit membedakan mana yang jiwa, mana yang raga.
Aku punya teman yang bisa diambil sebagai contoh. Dia adalah seorang gadis yang cantik jelita, namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Tubuhnya yang indah ibarat gitar spanyol yang bunyinya mengalun merdu. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang begitu lebat, sehingga telinganya seakan hilang tak terlihat tertutupi rambut itu. Bunga mempunyai suara yang indah pula. Banyak laki-laki yang tergila-gila padanya. Kebanyakan dari mereka mabuk akan kecantikan paras si Bunga yang seakan tiada duanya. Oh bunga yang begitu cantik. Kuning kulitnya membuat setiap mata laki-laki yang memandang hanyut dalam imajinasi tingkat tinggi. Entah ini imajinasi racun atau madu. Tetap saja laki-laki tidak memperdulikan racun atau madu.
Pakaian si Bunga selalu menarik perhatian. Payudaranya, pinggulnya, pahanya, pantatnya selalu ditonjolkan seakan mengundang semua laki-laki yang melihat untuk memegang. Tidak terkecuali aku. Dalam diam aku juga ikut menikmati payudara dan pinggul si Bunga dalam imajinasiku
Laki-laki yang lain juga ikut. Bapak guru juga ikut. Semua laki-laki juga ikut. Tidak ada yang luput. Tubuh si Bunga sudah jadi barang konsumsi bersama kesenangan kaum laki-laki. Siapa yang dosa?
Bagaimana dengan tanggapan si Bunga ketika ditanya tentang ini? Dengan enteng dia menjawab “apa? Tentu saja aku tidak setuju dong..!!! emangnya aku cewek apaan??” he..he.. itulah jawaban si bunga. Ternyata dia masih punya pikiran waras. Tapi kenapa perilakunya seperti orang yang tidak waras? Dia suka memamerkan lekuk tubuhnya di tempat umum. Terus, perilaku di atas apa bedanya dengan tidak punya harga diri? Dia sudah mengobral tubuhnya secara tidak langsung untuk dinikmati siapa saja laki-laki yang melihat.
Tahukah engkau wahai saudara-saudaraku? Jauh didalam hatinya, si Bunga ingin sekali dihargai, ingin dianggap penting, ingin menjadi pusat perhatian. Tapi dia memilih cara yang salah. Yang lebih menyakitkan lagi, dia melakukan cara salah itu dengan sadar. Sadar kalau ini salah dan akan membuat dosa. Namun si Bunga tetap memilih cara ini. Karena dengan melakukan itu, ada perasaan bangga di hatinya. Aneh kan?!
Itulah. Jiwa si Bunga sudah tidak waras. Jiwa si Bunga memerintah untuk berbuat salah, sehingga raganya juga mencerminkan apa yang jiwanya perintah.
Sebagai laki-laki, aku kasihan melihat kaum perempuan yang suka memamerkan keindahan tubuh mereka. Tidak tahukah mereka? Bahwa memperlihatkan lekuk tubuh mereka di tempat umum tidak akan mengangkat harga diri mereka? Hal itu malah akan menjatuhkan harga diri mereka. Seakan mereka tidak punya harga diri. Laki-laki memandang remeh mereka. Maka jangan salahkan laki-laki jika mereka dilecehkan. Itu semua karena hasil dari perbuatan mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar