1.08.2009

MENYONGSONG MASA DEPAN

Senin, 24 Desember 2007, 7:36
Bau minyak telon memang membuat hati tenang. Aku menyebutnya sebagai aroma terapi. Pagi ini rencanaku akan mengurus nomor HP adikku, Redi yang harus diblokir dan ganti nama. Kemarin lusa dalam perjalanan ke Jember, Redi Hp-nya hilang. Dia ingin nomor itu diblokir dulu dan kemudian diaktifkan lagi dengan kartu beda tapi nomor tetap yang lama. Redi pakai kartu IM3, berarti aku harus datang ke kantornya Indosat. Di Malang sini kantor Indosat ada di dekatnya rumah sakit Saiful Anwar. Menuju ke arah singosari setelah rumah sakit Saiful Anwar di kiri jalan atau sebelah barat jalan akan kita temukan kantor Indosat. Itu masih katanya. Karena aku juga belum pernah kesana. Nanti rencananya mau ke sana.

Apa yang aku pikirkan sekarang? Entahlah. Aku melewati hari terasa hanya mengikutinya seperti sampah yang hanyut oleh air sungai. Aku seakan tidak punya rencana yang pasti dan terus. Waktuku kuhabiskan dengan banyak hal-hal yang tidak berguna. Maksudnya sebenarnya ada banyak hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa aku kerjakan. Seakan aku dIkejar oleh waktu. DIkejar untuk apa? Tidak tahu. Rasanya aku dIkejar oleh waktu. Hal ini aku alami setiap aku membuka mataku. Ada sesuatu yang membuatku bimbang dan selalu was-was. Apa mungkin ini adalah pertanyaan masa depanku bagaimana?

Memang semua orang tidak akan tahu pasti bagaimana nasibnya di masa depan nanti. Mereka hanya bisa menerka-nerka dan berusaha. Menerka mungkin baik mungkin buruk. Berusaha agar bisa menjadi yang terbaik dan orang lain menjadi yang buruk (umumnya begitu). Hidup ini tidak ubahnya sebuah perjudian. Melakukan trik agar mendapat apa yang diinginkan (keuntungan bagi diri). Dunia memang kejam. Bukan dunia sebenarnya, tapi hidup. Apakah benar hidup ini kejam? Ah entahlah. Aku masih belum berani menjawab iya. Saat ini aku berfikir, kejam dan tidaknya adalah tergantung bagaimana orang yang mengalami itu menyikapinya. Pendapat umum mengatakan, dunia kejam jika seseorang hidup dalam penderitaan. Penderitaan banyak sebabnya. Mulai dari miskin, melarat, kere, ditinggal orang yang dicintai, mengalami kerugian materi yang besar, hilang harga diri karena tercemar di mata masyarakat, mendapat penyakit yang berat penyembuhannya, dan lain sebagainya.

Di Indonesia hal yang paling cocok untuk mendefinisikan kejamnya hidup adalah “MISKIN”. Akar dari permasalahan yang tidak kunjung selesai adalah masih banyaknya orang miskin di Indonesia. Sebentar, miskin apa? Ya miskin semua, baik itu miskin hati maupun miskin harta serta miskin harga diri. Dari ketiga jenis miskin diatas, rupanya di Indonesia hanya ada satu miskin yang menjadi pilihan utama. Yaitu “MISKIN HARTA”.

Entah ini hanya pemikiranku saja aku tidak perduli. Mau percaya atau tidak silahkan. Setiap hari hampir seluruh penduduk Indonesia rela untuk bangun lebih pagi, kemudian mengantri karcis kereta, pesawat,bus,angkot dan bagi yang mempunyai kendaraan sendiri mereka harus rela terjebak macet. Untuk apa? Ya untuk bekerja. Kenapa harus bekerja? Ya biar dapat duit. Kenapa harus dapat duit? Ya biar tidak miskin. Kenapa kalau miskin? Kalau miskin tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Trus, kenapa kalau tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari? Bodoh amat sih!! Sudah tahu gitu masih ditanyakan. Kalau tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari berarti ya “MISKIN..”

Itulah, mereka seakan terjebak pada kebutuhan dunia. Dunia adalah nomor satu bagi mereka. Padahal sebenarnya mereka lupa atau bahkan tidak tahu bahwa ada yang lebih penting dari pada memikirkan miskin harta, yaitu “MISKIN HATI.” Kok jadi menggurui gini ya.? Sepertinya kok aku sudah jadi orang suci saja. Yaudah aku ralat penyataanku;
Itulah, kita seakan terjebak pada kebutuhan dunia. Dunia adalah nomor satu bagi kita. Padahal sebenarnya kita lupa atau bahkan tidak tahu bahwa ada yang lebih penting dari pada memikirkan miskin harta, yaitu “MISKIN HATI.”

Tidak ada komentar: