Minggu, 23 Desember 2007, 18:14
Aku tadi siang mulai jam setengah dua pergi jalan-jalan ke pasar loak-an. Namanya pasar loak Comboran. Letaknya di sebelah selatan jauh pasar Besar Malang. Dari kos aku jalan ke tempat angkot mangkal, yaitu di sebelah pasar Madyopuro. Kemudian aku naik angkot MK. Didalam angkot, selama perjalanan aku terus berfikir, mencari inspirasi untuk aku tulis nanti jika aku sudah pulang. Sekarang aku menulis apa yang aku dapat tadi.
Didalam angkot aku bisa mengamati banyak hal. Mulai dari hal kecil sampai hal yang besar. Berikut ini akan aku kemukakan satu persatu secara detail;
Aku tadi siang mulai jam setengah dua pergi jalan-jalan ke pasar loak-an. Namanya pasar loak Comboran. Letaknya di sebelah selatan jauh pasar Besar Malang. Dari kos aku jalan ke tempat angkot mangkal, yaitu di sebelah pasar Madyopuro. Kemudian aku naik angkot MK. Didalam angkot, selama perjalanan aku terus berfikir, mencari inspirasi untuk aku tulis nanti jika aku sudah pulang. Sekarang aku menulis apa yang aku dapat tadi.
Didalam angkot aku bisa mengamati banyak hal. Mulai dari hal kecil sampai hal yang besar. Berikut ini akan aku kemukakan satu persatu secara detail;
1. Didalam angkot aku lihat tulisan dalam bentuk stiker yang ditempelkan pada pintu bagian belakang angkot. Sehingga setiap penumpang bisa melihat dan kemudian membacanya. Jam sudah menunjukkan angka 14 lebih 5 menit. Dengan penuh semangat aku ambil buku dan spidol dari dalam tas yang memang sudah aku siapkan. Lalu aku tulis “EBES-E AREK MALANG.”
Apa ada yang salah dengan tulisan itu sehinga aku menulisnya? Apa yang membuatku tertarik dengan kata-kata yang ada di dalamnya?
Ya, aku tertarik. Aku tertarik karena di stiker tersebut tidak hanya ada tulisan, tapi juga gambar. Lebih tepatnya aku sebut foto. Disitu terlihat dua buah foto seorang tokoh laki-laki pendek pakai topi sedang bersalaman dengan sekelompok anak-anak TK. Foto yang satunya lagi dia sedang bersalaman dengan anak-anak SD. Siapa tokoh itu? Kenapa dia -maksudnya foto dirinya- sampai ada di setiap angkot MK, atau bahkan di seluruh angkot Malang? Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Memang iya. Semua pasti ada maksudnya. Aku kenal siapa tokoh itu. Setiap orang di Malang ini tahu siapa dia. Dia adalah Drs. Peni Suprapto, M.AP yang notabene adalah walikota malang.
Terus, kalau walikota kenapa?
Ya.. gapapa sih. Aku kan Cuma mau nulis apa yang membuatku tertarik. Dan tadi aku tertarik dengan tulisan yang ada di stiker yang ditempel di angkot itu.
Kembali ke masalah kata-kata di stiker. Dari mana datangnya ide bahwa Drs. Peni Suprapto, M.AP adalah ebes-e (bapaknya-Pen) kota Malang? Apakah itu benar? Apakah sudah terbukti? Bisakah aku percaya begitu saja bahwa dia adalah bapaknya kota Malang hanya dengan melihat dia telah bersalaman dengan anak-anak TK dan SD? Terus terang aku tidak percaya. Yang aku percaya dia adalah walikota.
Kembali ke masalah kata-kata di stiker. Dari mana datangnya ide bahwa Drs. Peni Suprapto, M.AP adalah ebes-e (bapaknya-Pen) kota Malang? Apakah itu benar? Apakah sudah terbukti? Bisakah aku percaya begitu saja bahwa dia adalah bapaknya kota Malang hanya dengan melihat dia telah bersalaman dengan anak-anak TK dan SD? Terus terang aku tidak percaya. Yang aku percaya dia adalah walikota.
Timbul dengan spontan dalam pikiranku setelah itu. “Oh iya, sebentar lagi kan pergantian walikota”. Jadi tulisan-tulisan baik-baik akan mudah kita jumpai. Baik belum tentu benar lo.. setelah aku merenung, dengan spontan pula aku menyimpulkan bahwa itu hanya usaha mencari dukungan atau kampanye “dini”? Coba lihat dan rasakan isi stiker itu apakah benar begitu? Apakah kita hanya cukup melihat dan membacanya? Aku rasa tidak. Kita harus memikirkannya dan dengan seksama memaknainya. Karena apa yang terlihat bukanlah seperti yang terlihat, tapi ada makna tersembunyi. Yaitu sebuah POLITIK.
2. Inspirasi kedua yang aku dapat saat diangkot adalah bahwa semua orang ingin menunjukkan yang terbaik tentang dirinya. Semua hanya bertujuan agar dia dianggap penting (dihargai) oleh orang lain. Didepanku ada seorang wanita muda. Dia duduk pas didepanku. Mungkin dia heran melihatku kelihatan seperti orang aneh. Karena waktu itu aku sedang memegang buku dan kemudian menulis. Aneh karena didalam angkot menulis dengan serius seakan tidak terganggu. Seakan tidak menghiraukan orang disekitarku, aku terhanyut dalam entah khayalanku atau pikiranku atau inspirasiku ah aku tidak tahu.
Aku perhatikan wanita muda itu. Wajahnya lumayan cantik. Kulitnya juga tidak hitam-hitam amat. Cuma ada yang mencolok. Yaitu wajahnya dengan tangannya. Eh, bukan tangannya, tapi lehernya (weh... sampai ke leher segala..). sebenarnya aku pengen tertawa saat melihatnya. Tapi karena malu dan pastinya tidak sopan maka aku tahan. Aku tertarik dengan leher dan wajah wanita itu. Tertarik karena warna kulitnya tidak sama. Hal ini disebabkan oleh Dempul (make-up) pada wajah yang berlebihan. Bagiku dia mempunyai tujuan baik yaitu agar tidak malu-maluin didepan orang lain, pengen tampil maksimal, tapi malah sebaliknya. Dia kelihatan lucu bagi siapa saja yang melihatnya. Telepas dari lucu atau tidak, wanita tersebut pasti punya maksud yang baik. Kenapa aku bilang baik? Karena ini berhubungan dengan dirinya. Atau lebih tepatnya karena ini berhubungan dengan harga dirinya. Dia ingin dihargai.
2. Inspirasi kedua yang aku dapat saat diangkot adalah bahwa semua orang ingin menunjukkan yang terbaik tentang dirinya. Semua hanya bertujuan agar dia dianggap penting (dihargai) oleh orang lain. Didepanku ada seorang wanita muda. Dia duduk pas didepanku. Mungkin dia heran melihatku kelihatan seperti orang aneh. Karena waktu itu aku sedang memegang buku dan kemudian menulis. Aneh karena didalam angkot menulis dengan serius seakan tidak terganggu. Seakan tidak menghiraukan orang disekitarku, aku terhanyut dalam entah khayalanku atau pikiranku atau inspirasiku ah aku tidak tahu.
Aku perhatikan wanita muda itu. Wajahnya lumayan cantik. Kulitnya juga tidak hitam-hitam amat. Cuma ada yang mencolok. Yaitu wajahnya dengan tangannya. Eh, bukan tangannya, tapi lehernya (weh... sampai ke leher segala..). sebenarnya aku pengen tertawa saat melihatnya. Tapi karena malu dan pastinya tidak sopan maka aku tahan. Aku tertarik dengan leher dan wajah wanita itu. Tertarik karena warna kulitnya tidak sama. Hal ini disebabkan oleh Dempul (make-up) pada wajah yang berlebihan. Bagiku dia mempunyai tujuan baik yaitu agar tidak malu-maluin didepan orang lain, pengen tampil maksimal, tapi malah sebaliknya. Dia kelihatan lucu bagi siapa saja yang melihatnya. Telepas dari lucu atau tidak, wanita tersebut pasti punya maksud yang baik. Kenapa aku bilang baik? Karena ini berhubungan dengan dirinya. Atau lebih tepatnya karena ini berhubungan dengan harga dirinya. Dia ingin dihargai.
3. Akan aku ceritakan tentang seorang ibu dengan dua anaknya. Mereka berjalan. Mereka berjalan jauh. Ibu muda setengah tua itu menggendong anaknya yang masih balita. Kira-kira tiga tahun umur anaknya yang digendong itu. Yang satunya sudah lumayan besar. Kira-kira berumur sebelas tahun. Mereka berjalan dari arah pasar Madyopuro menuju ke selatan ke arah Turen. Dari dalam angkot yang berhenti menungu penumpang penuh, aku perhatikan mereka. Perasaan iba langsung menyerangku. Bagaimana tidak, ibu itu berjalan tidak sempurna. Seakan kakinya yang kanan lebih panjang dari pada kakinya yang kiri. Sehingga waktu berjalan akan kelihatan -maaf- lucu. Mereka aku kira akan naik angkot bersamaku. Ternyata tidak. Mereka melewati angkotku yang sedang berhenti tadi.
Setelah melewati angkot berhenti yang aku tumpangi, aku tidak memikirkan ibu dengan anaknya tadi. Aku terus mencari inspirasi apa yang bisa aku tulis. Sampai pada akhirnya angkot yang aku tumpangi tersebut berjalan menuju ke arah Turen yang juga menuju ke arah pasar Besar. Lima menit angkot berjalan, belum ada sesuatu yang mengusik hatiku. Sampai secara tidak sengaja didalam angkot yang berjalan itu aku melihat kebelakang. Aku melihat ibu dengan dua anaknya tadi masih berjalan. Ah, mereka sudah berjalan jauh. Terakhir aku melihat mereka lima belas menit yang lalu. Mereka kelihatan lelah. Aku bertanya-tanya kenapa mereka tidak naik angkot saja? Kan lebih cepat dan tidak lelah. Entah lah. Pasti mereka punya alasan. Aku hanya kasihan melihat mereka yang berjalan jauh. Apalagi dengan kondisi ibu itu yang berjalan sedikit -maaf lagi- pincang. Aku terus berfikir. Aku kasihan pada mereka. Apa mereka tidak punya uang cukup untuk naik angkot? Aku tidak tahu.
4. Setiap manusia mempunyai relnya sendiri-sendiri. Tuhan sudah menentukan jalan hidup kita. Kita harus menjalaninya dengan senang atau tidak senang. Itu sudah jatah kita.
5. Apa bedanya naik sedan dengan naik angkot dan truk, dan jeep, dan motor? Apa bedanya? Apakah sama saja? Kalau sama mengapa harganya tidak sama?
6. Antena berlomba-lomba tinggi. Mencari apa? Apa sama dengan manusia? Menuju kearah barat atau arah pasar besar atau klenteng, setelah melewati daerah pemakaman Jodipan atau yang lebih dIkenal dengan jalan Muharto, angkot yang aku tumpangi melewati sebuah jembatan yang landai kebawah. Itulah uniknya di Malang. Hampir semua jembatan yang aku jumpai pasti landai kebawah. Beda dengan di daerahku, Tulungagung. Kebanyakan jembatannya rata dengan jalan. Tidak ada turun naik. Waktu melewati jembatan itu aku melihat banyak rumah berjajar, eh bukan berjajar tapi berdesakan tidak karuan. Yang lebih menarik lagi adalah hampir setiap rumah memasang tiang bambu atau pipa besi sebagai penyangga antena TV mereka. Tiba-tiba muncul pertanyaan bodoh. Antena-antena itu berlomba-lomba tinggi. Mencari apa? Dari pertanyaan ini orang bodohpun akan tahu jawabannya, yaitu untuk dapat sinyal yang bagus. Lalu timbul pertanyaan yang lebih dalam lagi; apakah tujuan antena-antena itu sama dengan manusia?
Tujuan apa? Coba cari sendiri.
7. Bagi tukang angkot mundur berarti cari penumpang. Bagi kita?
8. Banyak cara mendapatkan uang. Selama mau kreatif dan berusaha. Pikiran ini muncul saat aku melihat ibu penjual gorengan, pakai gerobak dorong di dalam pasar besar Malang yang sesak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar