SEBUAH AWAL
By: PK.Binjon
Berapa umurmu? Pertanyaan itu yang sering terngiang-ngiang dipikiran Pramana. Saat sesuatu dikaitkan dengan umur, semuanya seakan sempit, Semua seakan tergesa-gesa, dan kadang tidak ada artinya. Bagi Pramana sempit dan tergesa-gesa adalah hal yang biasa. Dalam kekurangan Pramana ini, hal-hal tersebut selalu menjadi momok yang tidak akan hilang.
Pramana adalah seorang laki-laki remaja nakal dan malas yang ingin maju, tapi tidak berusaha keras. Dengan semakin bertambahnya usia, dia merasa tanggung jawabnya semakin besar. Dia adalah laki laki, yang kelak menopang kehidupan anak dan istrinya kelak. Perasaan itu selalu menghantuinya. Apakah dia bisa? Apakah dia mampu? Apakah dia akan berhasil? Itulah yang dirasakan si Pramana. Pramana yang banyak berkhayal tanpa banyak berusaha keras.
Dia hidup di lingkungan yang cukup relijius, tapi pergaulan bebas lebih mendominasinya untuk jadi anak yang lepas tanpa kekang. Di tempatnya, dia dIkenal pendiam, padahal sebenarnya tidak. Kesukaannya mabuk-mabukan bersama teman-teman dari luar daerahnya. Jadi bisa dibilang dikandang dia jinak, dan di luar kandang dia liar.
Pernah suatu malam dia minum-minum bersama teman-temannya di depan masjid dekat pegadaian kota. Hingga semua teler gak karuan. Tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan hari sudah larut malam.
Di kesempatan yang lain, Pramana ikut tawuran antar sekolah. Untungnya dia tidak apa-apa, walaupun teman-temannya banyak yang terluka dan tertangkap polisi. Tapi dia lolos. Pramana selalu ada di barisan depan setiap ada tawuran. Dia yang memprovokatori teman-temannya agar tetap dalam situasi panas dan emosi. Baginya suasana seperti itu sangat menyenangkan.
Dia puas jika ada anggota dari pihak lawan yang terluka. Entah itu dikroyok, atau terkena lemparan batu. Dan jika salah satu temannya yang terluka, maka dia akan berteriak dengan lantang seakan memberikan komando pada teman-teman yang lain sambil tangannya menunjuk pada anak yang tadi melukai temannya. Seketika itu pula, si anak tertunjuk tadi jadi bulan-bulanan hingga dia masuk rumah sakit berbulan-bulan.
Saat Pramana lulus SMA Pramana tidak punya tujuan, mau meneruskan sekolahnya kemana. Pramana bagai orang yang gak punya cita-cita. Pikiran yang dinamis, terkini, dan luas tidak Pramana punyai. Sehingga pengetahuan Pramana tentang hal hal yang mendukung pendidikannya sangat kurang sekali. Pernah terbesit untuk tidak meneruskan kuliah saja. Lebih baik dirumah Bantu ayah di kebun.
Kemudian rasa itu menghantui Pramana. Menghantui dengan mengatakan “jika kamu tidak kuliah atau meneruskan sekolahmu ke jenjang yang lebih tinggi, kamu tidak akan jadi orang yang maju, kamu tidak akan jadi orang yang sukses, kamu tidak akan jadi orang yang kaya ilmu dan harta, kehidupanmu akan terus seperti ini, tidak ada kemajuan.” Pramana sempat takut dengan hal itu, siapa sih yang tidak ingin sukses? kaya ilmu dan harta? jadi orang maju? jadi orang yang dinamis? dan jadi banyak yang lain yang bisa mengantar kearah perubahan yang lebih baik?
Tekad dan niat sangat diperlukan
untuk mencapai sukses.
Baik itu untuk
hal yang kecil ataupun besar.
Ternyata setelah lulus dari SMA Pramana meneruskan belajarnya ke luar kota, yaitu kursus bahasa asing. sebenarnya Pramana kesana juga karena terpaksa, dari pada nganggur dirumah, daripada dirumah Cuma disuruh kerja berat.
Nah.. dari sini kehidupan pribadi Pramana dibangun dengan drastis. Satu, dua, tiga bulan pertama disana Pramana tetep dengan kelakuan dan sikap yang Pramana bawa dari rumah. Tentunya kelakuan yang dimaksud adalah kelakuan yang jelek. Pramana masih suka minum, masih suka main cewek, tidak pernah belajar, pengennya jalan-jalan dan senang-senang saja. Disana dia bergaul dengan orang-orang yang memang dari tempat asalnya sudah gak bener.
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terjadi pada diri Pramana. Pramana mulai mikir sebab akibat, Pramana mulai mikir hukum karma, Pramana mulai mikir mati, mikir akherat, dan mikir kelakuannya pada kedua orang tuanya. Pengalaman yang tak terlupakan saat awal puasa tahun 2002. Sore itu, kira kira jam lima-an, mereka anak-anak kos ngumpul jadi satu di kamar salah satu teman satu kos mereka. Ya, ramai sore itu. Mereka bercanda tanpa arah, tertawa, gembira.
Hingga saatnya tiba, Pramana merasa tidak berada di kamar itu. Pramana merasa kamar itu sepi, dia merasa berada di tempat lain. Pramana merasa sendiri diantara canda teman-temannya yang ramai. Dalam keheranan, Pramana berusaha mencari apa ini. Hingga akhirnya hal yang tak pernah Pramana rasakan sebelumnya seumur hidup Pramana terjadi.
Tiba-tiba Pramana merasa takut, takut sekali setelah mendengar suara dan melihat sesosok bayangan yang tidak bisa Pramana gambarkan dan katakan ada di depannya. Itu bukan hantu atau setan. Karena kalau setan Pramana tidak akan ketakutan sepeti itu. Pramana tidak pernah takut pada setan atau hantu. Malah dia selalu mencari penampakan mereka. Jadi, bagi Pramana hantu atau setan adala hal yang biasa baginya.
Setelah melihat dan merasakan itu, Pramana terdiam sejenak tidak bisa berfikir. Bayangan itu seperti sedang berteriak. Pramana seperti mengenal bayangan itu, tapi Pramana tidak tahu siapa. Yang pasti Pramana takut dengan suara itu. Hingga maghrib tiba, mereka berbuka, minum takjil bersama-sama.
Kejadian tadi tidak Pramana ceritakan pada teman-teman yang lain, karena Pramana tahu mereka pasti tidak tahu. Mereka pasti tidak tahu saat tadi tiba-tiba kamar jadi gelap, dan pandangan hanya bisa ditujukan pada satu hal saja, yaitu apa yang Pramana lihat tadi. Sosok putih yang tinggi, seakan rambutnya terurai tapi Pramana tidak bisa melihat wajahnya. Pramana hanya diam. Berpura-pura tenang, seakan tidak terjadi apa-apa padanya.
Adzan sudah selesai, teman-teman bersiap untuk ambil wudlu, dan kamipun sholat berjama’ah di mushola bapak kos yang ada di depan rumah kos kami. Pramana ada di barisan depan sebelah kiri. Dan sholatpun dimulai. Rokaat pertama berlalu, kemudian rokaat kedua.”ALLOH MAHA BESAR”, dia datang lagi.
Perasaan itu datang menyerang pikiran Pramana, otak Pramana dan hati Pramana. Seluruh tubuh Pramana bergetar, air mata jatuh tak terhindarkan. Entah kenapa, Pramana hanya bisa ndingkluk dan berdiri sambil menyebut-nyebut nama ALLOH. Entah apakah yang Pramana rasakan dikamar tadi sama atau tidak dengan yang Pramana rasakan waktu sholat itu, Pramana masih belum begitu jelas. Yang Pramana tahu dia tidak lagi melihat sosok putih lagi, tapi Cuma ruang mushola yang tiba-tiba jadi gelap.
Pertama kali dalam hidupnya, Pramana sholat dengan menagis tersedu-sedu. Dan satu lagi, Pramana merasa waktu menagis itu Pramana dekat sekali dengan ALLOH, Pramana merasakan kenikmatan dan perlindungan yang tiada tara. Entah pikiran ini datangnya dari mana, tapi yang Pramana rasakan saat itu adalah ini. Hingga sholat berakhir air mata masih melinangi pipinya. Pramana ingin sholat lagi yang lama sekali. baginya sholat tadi sebentar sekali.
Sehabis sholat Pramana tidak langsung makan untuk berbuka seperti teman-teman yang lain. Pramana kembali ke kamar yang tadi, berharap dia bisa melihat dan kalo mungkin berbincang-bincang dengan sosok yang misterius itu. Didalam kamar Pramana diam, Pramana tunggu sampai lima menit, sepuluh menit, tapi sosok itu tidak muncul.
Akhirnya Pramana punya ide. NGAJI. Ya.. mengaji. Menurutnya, sosok itu bukan setan atau hantu. Entah apa, yang pasti dia datang untuk mengingatkan Pramana. Dia datang untuk memberitahu Pramana bahwa ibadah itu nikmat. Pramana ambil Al-Qur’an, Pramana buka halamah pertama, yaitu surat Al-Fatihah. Betapa herannya Pramana.
Dia tidak bisa ngomong “bismillah.” Pramana ulangi berkali-kali tetap saja Pramana tidak bisa. Ada apa ini..? Pikirannya tertuju pada orang tuanya, pada ayahnya, pada ibunya. Dia coba lagi untuk mengucap “bismillah”, tapi masih belum bisa. Pramana jadi takut. Pikirannya kemana-mana, Pramana sangat bingung, Pramana masih bisa berfikir, tapi tidak bisa mengucap. Pramana lalu diam dan diam.
Kemudian, tidak tahu kenapa bayangan orang tuanya datang lagi. Terbayang wajah mereka sedang melihat Pramana dengan tersenyum, Pramana hanya meringis, dan berfikir “ah ada ada saja pikiranku ini”.
Yang lebih mengherankan lagi, Pramana memikirkan kenakalannya pada mereka. Pramana merasa telah menjadi anak yang tidak berbakti pada mereka. Pramana mulai terharu, mulai sadar dan akhirnya Pramana menangis tersedu-sedu lagi. Untung tidak ada orang waktu itu, kalo ada pasti Pramana malu. Pramana meminta maaf pada ALLOH, dan untuk yang pertama kalinya Pramana berdoa untuk orang tuanya. Untuk keselamatan mereka di dunia dan di akherat.
Setelah selesai berdoa, Pramana mencoba ucapkan bismillah lagi. Ternyata Pramana sudah bisa. Tapi ada satu yang lain dari bismillah Pramana ini. Rasanya lebih merasuk di jiwa. Pramana sadar mengucapkannya dan Pramana tahu arti, juga harapan dengan mengucapkannya. Jadi bismillah yang ini lain dari bismillah yang sebelumnya.
Hati Pramana bergetar, jantung Pramana berdetak kencang. Pramana lanjutkan mengajinya, Pramana baca ayat pertama dari Al Fatihah dengan penuh penghayatan. Kemudian ayat kedua dan ketiga. Saat menginjak ayat yang keempat Pramana tidak bisa meneruskan bacaannya. Pramana menangis lagi. Pramana coba untuk membaca lagi tapi tidak bisa, Pramana terhenti oleh tangisnya. Pramana heran kenapa dia jadi cengeng seperti ini. Pramana tidak bisa mengucap lagi. Saat itu, Pramana makin yakin bahwa yang dia lihat tadi bukan hantu atau setan. Tapi dengan sedikit berspekulasi Pramana simpulkan bayangan tadi adalah utusan ALLOH untuk memberikan peringatan padanya. Peringatan akan kurangnya ibadah Pramana, peringatan akan kenakalan Pramana pada ayah dan ibu Pramana, dan peringatan akan semua perbuatan Pramana yang banyak mengundang dosa. 130706. Wed.PK.binjon.
SELESAI.