4.23.2009

TIDAK SUKA PELAJARAN AGAMA

TIDAK SUKA PELAJARAN AGAMA

Saat itu aku kelas satu SD. Baru menginjak bangku SD rupanya membuatku memilki perasaan baru juga. Kalau di bangku TK aku biasanya hanya main-main, di SD aku mulai diajari beberapa pelajaran. Ada matematika, bahasa indonesia, bahasa daerah, agama dan lainnya. Aku juga diajari menulis.

Guru kelas satu ku adalah Bu Yati. Sekarang Bu Yati sudah meninggal. Tepat saat idul fitri tahun 2008 kemarin. Bu Yati adalah sosok yang sabar dan telaten. Walaupun kadang juga marah jika melihat muridnya yang nakal. Pelajaran yang aku paling ingat dari dia adalah pelajaran menulis. Dulu dia kalau mengajar menulis, maka akan menulis di papan tulis kayu warna hitam dengan kapur tulis warna putih, dan meminta muridnya untuk menulis ulang di buku masing-masing.

Pelajaran menulis pertama yang masih aku ingat adalah seperti ini;

Budi

B – u – d – i

Bu – di

Budi

Dengan membawa penunjuk kayu, Bu Yati akan mengajak kami untuk membaca tulisan budi. Dia akan mengatakan;

Buu..di
Be.. uu.. de... ii..
Be.. uu.. bu
de... ii..di
Buu..di

Lalu kami mengikuti apa yang dikatakan Bu Yati dengan penuh antusias. Setiap huruf yang kami ucapkan, hingga menjadi kata, dan akhirnya kami membaca kalimat. Dan bisalah kami membaca paragrap. Hingga lama-lama kami bisa membaca cerita dalam satu buku. Tentunya tidak saat itu juga. Mungkin setelah aku kelas enam ke atas aku bisa membaca cerita satu buku sampai selesai.

Kalau kita lihat proses di atas, akan kita temukan, semua dimulai dari hal yang kecil. Untuk melakukan hal yang besar, kita harus mulai dari hal yang kecil. Mari kita berterima kasih kepada guru kita. Terlebih lagi guru SD kita (berarti aku juga harus berterima kasih kepada bapakku). Guru SD ibaratnya yang telah membuka hutan pengetahuan kita yang tertutup. Bagaimana dengan guru SMP dan selanjutnya? Kita juga harus tetap berterima kasih. Mereka yang meneruskan usaha dari guru SD.

Pelajaran lain yang tidak bisa aku lupa adalan pelajaran Agama Islam. Nama gurunya adalah Bu Saroh (Siti Usaroh). Orangnya cantik, karena pas ngajar aku dia masih muda. Tapi aku takut dengan dia. Suaranya kalau berteriak lantang. Pandangan matanya tajam dan menakutkan diriku yang masih berumur tujuh tahun. Setiap pelajaran agama pasti ada yang namanya membaca tulisan arab. Saat itu aku belum bisa sama sekali membaca tulisan arab, sedangkan teman-temanku sudah ada yang bisa. Yono, Andi, Ruroh, Waroh, Desi dan beberapa teman yang lain sudah bisa. Ada juga teman-teman yang tidak bisa seperti aku. Namun rupanya kebisaan mereka dalam baca tulisan arab telah menciutkan nyaliku dan membuatku tidak bersemangat jika ada pelajaran agama. Apalagi, makin lama pelajarannya menurutku makin sulit. Aku jadi tersiksa. Setiap hari senin aku takut untuk masuk sekolah. Karena setelah upacara bendera pelajaran pertama adalah pelajaran agama.

Apa yang membuatku tidak semangat dengan pelajaran agama ya?
Tidak bisa dalam pelajaran itu hal yang biasa. Kenapa aku bisa takut seperti itu. Seakan pelajaran agama adalah momok yang wajib untuk dihindari. Apa ini karena guru yang mengajarnya ya? Bisa juga iya. Yang kurasakan waktu itu, aku takut dengan pelajaran Agama, dan juga dengan Bu Saroh.

Akhirnya rasa takutku bisa aku hilangkan setelah aku kelas lima. Aku tidak takut lagi mengikuti pelajaran Bu Saroh. Walaupun masih belum bisa lancar membaca tulisan arab.

Tidak ada komentar: