4.23.2009

BAKSO TUGU RANTE SAMBEL KRUPUK

Kamis, March 19, 2009, 6:09:13 AM

BAKSO TUGU RANTE SAMBEL KRUPUK

Jika aku lewat depan warung itu, sering aku tersenyum mengingat waktu kecil dulu. Sebuah warung bakso di pojok sebelah selatan barat. Tepatnya di perempatan Tugu Rante, Ngunut, Tulungagung. Sampai sekarang warung itu masih ada. Yang dijual juga masih sama, yaitu bakso dan teh dan krupuk. Ada juga jamu beras kencur dalam kemasan botol. Seingatku juga ada minuman jenis teh botol, sprite, dan fanta warna warni. Penjualnya juga masih tetap menggunakan kopyah hitam. Bedanya dia kadang tidak menjaga warung, tapi ada orang laki-laki, sepertinya itu menantunya. Dari mana aku tahu itu menantunya? Soalnya dulu yang aku tahu anaknya bapak penjual bakso itu semua perempuan. Kalau pembantunya juga tidak cocok. Penampilannya tidak seperti pembantu.

Ada warung di sebelah timur warung bakso itu. Dulu jualan es. Orang yang jualan rambutnya putih dan ikal, memakai kacamata, dan kalau malam lampu warung itu hijau. Esnya juga berwarna hijau. Bagiku dulu itu hal yang aneh. Karena ada es warnanya hijau. Maklum, kebanyakan es tahun 80-90 an adalah merah. Tapi warung itu sudah membuat hal yang lain. yang dijual juga es degan dan es blewah. Aku takut kalau melihat penjual es itu. Karena dia tidak pernah memakai celana panjang, jadi selalu memakai celana pendek. Kalau malam tiba, warung yang ramai dikunjungi adalah warung es dan bakso itu. Sehingga terkenal dengan nama bakso tugu rante dan es tugu rante.

Sampai saat aku kelas dua SD. Aku sering ke sana. Tentunya diajak oleh orang tua. Karena orang tuaku yang ada cuma Bapak, aku sering ke sana dengan Bapak. Ibu saat itu masih ke Arab Saudi menjadi TKI. Selain mengajak aku, Bapak juga mengajak Redi dan Ike. Kami selalu senang jika diajak beli bakso di sana. Apalagi redi, dan apalagi aku. Tapi kakakku, Ike kadang tidak senang. Karena dia tidak suka jika Bapak selalu jajan di luar. Bagi aku dan redi itu bukan hal yang perlu dipikirkan. Yang kami pikirkan adalah nanti kuat makan berapa mangkuk bakso.

Bapak sangat suka bakso, aku juga, redi juga. Sehingga kami adalah kumpulan manusia yang klop jika sedang bersama memilih makanan apa yang akan kami beli. Setiap pergi ke ngunut, selalu beli bakso. Bapak kalau makan bakso tidak pernah memakai saos. Dia Cuma pakai kecap dan sambal. Aku tidak tahu kenapa Bapak tidak suka saos. Kalau aku dan redi, kami sangat suka saos. Saking sukanya pada saos, kami sering bermain dengan saos. Ketika bermain perang-perangan, kami ngemut saos. Kemudian pura-pura kena pukul, lalu pura-pura jatuh dan mulut pura-puranya mengeluarkan darah. Darahnya adalah saos merah yang tadi kami emut.

Kalau Bapak sangat suka dengan sambal. Istilahnya kalau belum brengosnya kobong tidak berhenti makan sambal. Aku saja sampek heran, sambal yang dimakan Bapak sepertinya tidak pedas sama sekali. Padahal jika aku coba sambal yang dimakan Bapak pedasnya minta ampun.

Ada kejadian lucu yang akan selalu aku, Redi dan Ike ingat. Dulu, setiap beli bakso di tugu rante, kami selalu makan krupuk. Rasanya gurih, bentuknya kecil. Ukurannya sebesar krupuk emping. Nah... kami sangat suka dengan krupuk itu. Bapak juga suka. Apalagi jika ditambah sambal. Aku sampek mrecing-mrecing ndelok.

Pertama krupuk oleh Bapak dijejer di meja setelah dikeluarkan dari bungkusnya. Lalu krupuk itu diberi sambal pada bagian atasnya. Bukan beberapa krupuk, tapi setiap krupuk diberi sambal. Dan sambalnya juga tidak tanggung-tanggung. Satu krupuk satu sendok sambal. Weleh..weleh...

Aku yang lihat takut sama perutku. Krupuk sekecil itu dengan sambal sebanyak itu. Orang-orang yang melihat juga heran dan mringis-mringis melihat apa yang dilakukan bapak. Tapi seperti biasa, Bapak cuek saja sambil senyum-senyum.

Sekarang, jika aku pergi ke warung bakso itu, aku selalu tersenyum, apalagi jika kesana sama Redi, kami akan tertawa terbahak-bahak mengingat masa kecil yang konyol dan menyenangkan.

Tidak ada komentar: