Rabu, March 18, 2009, 9:02:37 PM
CIBLON DI KALI ETAN OMAH
Kalau banjir airnya meluap, kalau kemarau tidak ada airnya sama sekali. Itulah sungai yang terletak di sebelah timur rumah Udin dan Redi. Dulu, waktu kemarau tiba, Pak Sahar, bapaknya Udin dan Redi biasa mengambil tanah dari sungai itu dengan menggunakan ledok (gerobak dorong), lalu tanah itu di urugkan ke halaman rumah. Sehingga tanah di halaman mereka jadi lebih tinggi. Untuk jaga-jaga jika nanti musim hujan tiba air tidak meluap sampai masuk jauh ke dalam halaman rumah.
Udin dan Redi sangat senang jika banjir tiba. Karena mereka bisa bermain di halaman dengan membuat perahu-perahuan dari pelepah pisang, atau membuat perahu dari pohon pisang. Kegiatan mereka jadi lebih banyak. Setelah pulang dari sekolah, dengan penuh semangat mereka berlarian melihat banjir yang tingginya antara mata kaki sampai paha. Mereka juga jadi suka nrutus (menyusuri tempat-tempat yang tidak seharusnya dilewati).
Suatu hari mereka bermain di sebelah utara rumah Ibah. Disana ada air yang mengalir. Tidak dalam airnya, sekitar setengah lutut. Mereka bermain membuat bendungan yang terbuat dari tanah dan batu kecil. Lalu membuatnya sedemikian rupa sehingga apa yang mereka buat seperti asli sebuah bendungan.
Udin dan Redi juga mencari ikan di tempat itu. Walaupun mereka harus sembunyi-sembunyi dulu untuk mengintai apa ada ikan di bendungan mereka. Jika ada, maka mereka akan berlari dengan membawa besek (nampan dari bambu dianyam seperti gedhek) dan mengejar ikan itu untuk disorok ke darat. Jangan sangka ikan yang mereka tangkap besar. Tidak. Mereka hanya menangkap ikan kecil-kecil. Karena memang ikan besar tidak kelihatan waktu itu. Dan kalaupun ada, pasti mereka akan kesulitan untuk menangkap jika hanya dengan alat besek. Ikan yang mereka tangkap adalah ikan bethik, sepat, dan kadang ikan cethol dan sili.
Di hari yang lain, mereka mandi (ciblon) di sungai sebelah timur rumah. Air sungai itu mengalir dari selatan menuju ke utara dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Ada berbagai pilihan kedalaman di sungai itu. Mulai yang dangkal sampai yang paling dalam. Yang dangkal berada di bagian selatan, kira-kira dalamnya satu meter. Makin ke arah utara, sungai makin dalam. Hingga sampai pada jembatan. Di bawah jembatan kedalaman mencapai dua meter.
Udin dan Redi suka memilih di bagian yang dalam. Karena mereka sudah bisa berenang. Jadi tidak perlu khawatir tenggelam. Masih ingat dulu waktu Udin dan keluarga berlibur ke pemandian PAGURA Kediri, kolamnya juga dibagi menjadi beberapa pilihan kedalaman. Redi yang belum bisa berenang dengan “ita-itu alias kemlelet alias sok” langsung milih bagian yang lumayan dalam. Tentu saja dia tenggelam. Untung Udin dan Roziq ada di dekatnya. Jadi bisa langsung ditarik dan Udin marahi. Setelah itu Redi hanya di bagian dangkal.
Di sungai “etan” rumah Udin dan Redi hampir sama dengan PAGURA di Kediri. Kita bisa memilih kedalaman air untuk “dicibloni”. Udin dan Redi waktu itu sudah bisa berenang saat ciblon di sungai. Bahkan Udin sudah mahir. Buktinya dia bisa berenang gaya kodok. Tangan ke depan... lalu diayuhkan ke samping.... bersamaan dengan itu kaki di pancalkan menyamping...... lalu ke belakang........ Gerakannya antara kaki kiri dan kanan dan tangan kiri dan kanan adalah bersamaan. Teman-teman lain yang bisa berenang juga banyak. Hasyim e bek Parmi, Ali ne lek Samini, Agus e lek Samini, Pras e lek Seh, Deni ne lek Mi, Edi ne bek ti, Opek e mbah Wiji, Aris e lek Ten, dan teman-teman yang lain bisa berenang semua. Kecuali At harul pinisilin dan Ibah.
Teman-teman dari daerah masjid MI Jatirejo, Tenggur, Rejotangan, Tulunggagung, juga datang. Udin dan Redi tidak tahu nama mereka. Yang pasti sungai di timur rumah Udin dan Redi pasti ramai sekali jika banjir datang. Mulai pagi sampai sore hari. Kalau mereka tidak pulang-pulang jika sore datang, orang tua mereka yang akan datang menjemput sambil membawa gepok (alat pemukul). Baru mereka pulang lari telanjang terbirit-birit sampai tidak sempat memakai baju.
Pernah suatu hari saat ciblon mereka terjun dari jembatan. Lalu sebisa mungkin membuat suara percikan air yang sebesar-besarnya. Empat sampai lima anak biasanya terjun bersamaan. Jadi bisa dibayangkan suara yang timbul “jebluuuuurrrrrrr......”
Saking ramainya sungai itu, sampai-sampai di bawah jembatan juga banyak anak yang berenang-renang seperti kodok.
Salah satu kodoknya adalah Agus e lek Samini. Dia berenang dari bawah jembatan menuju ke keluar dari bawah jembatan. Di saat yang bersamaan, Redi sudah bersiap-siap untuk terjun dari jembatan. Pas si Agus keluar dari bawah jembatan, si Redi dari atas terjun pas di atas si Agus. Dan bukan suara jeblur air yang keluar. Melainkan suara punggung tertubruk kaki. Iya, punggung Agus yang sedang berenang seperti kodok terkena kakinya Redi yang tadi terjun bebas dari jembatan.
Langsung saja Agus menangis kesakitan. Dan Redi “ingah-ingih” ketakutan.
He..he..he..
Kapokmu kapaann...
CIBLON DI KALI ETAN OMAH
Udin dan Redi sangat senang jika banjir tiba. Karena mereka bisa bermain di halaman dengan membuat perahu-perahuan dari pelepah pisang, atau membuat perahu dari pohon pisang. Kegiatan mereka jadi lebih banyak. Setelah pulang dari sekolah, dengan penuh semangat mereka berlarian melihat banjir yang tingginya antara mata kaki sampai paha. Mereka juga jadi suka nrutus (menyusuri tempat-tempat yang tidak seharusnya dilewati).
Suatu hari mereka bermain di sebelah utara rumah Ibah. Disana ada air yang mengalir. Tidak dalam airnya, sekitar setengah lutut. Mereka bermain membuat bendungan yang terbuat dari tanah dan batu kecil. Lalu membuatnya sedemikian rupa sehingga apa yang mereka buat seperti asli sebuah bendungan.
Udin dan Redi juga mencari ikan di tempat itu. Walaupun mereka harus sembunyi-sembunyi dulu untuk mengintai apa ada ikan di bendungan mereka. Jika ada, maka mereka akan berlari dengan membawa besek (nampan dari bambu dianyam seperti gedhek) dan mengejar ikan itu untuk disorok ke darat. Jangan sangka ikan yang mereka tangkap besar. Tidak. Mereka hanya menangkap ikan kecil-kecil. Karena memang ikan besar tidak kelihatan waktu itu. Dan kalaupun ada, pasti mereka akan kesulitan untuk menangkap jika hanya dengan alat besek. Ikan yang mereka tangkap adalah ikan bethik, sepat, dan kadang ikan cethol dan sili.
Di hari yang lain, mereka mandi (ciblon) di sungai sebelah timur rumah. Air sungai itu mengalir dari selatan menuju ke utara dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Ada berbagai pilihan kedalaman di sungai itu. Mulai yang dangkal sampai yang paling dalam. Yang dangkal berada di bagian selatan, kira-kira dalamnya satu meter. Makin ke arah utara, sungai makin dalam. Hingga sampai pada jembatan. Di bawah jembatan kedalaman mencapai dua meter.
Udin dan Redi suka memilih di bagian yang dalam. Karena mereka sudah bisa berenang. Jadi tidak perlu khawatir tenggelam. Masih ingat dulu waktu Udin dan keluarga berlibur ke pemandian PAGURA Kediri, kolamnya juga dibagi menjadi beberapa pilihan kedalaman. Redi yang belum bisa berenang dengan “ita-itu alias kemlelet alias sok” langsung milih bagian yang lumayan dalam. Tentu saja dia tenggelam. Untung Udin dan Roziq ada di dekatnya. Jadi bisa langsung ditarik dan Udin marahi. Setelah itu Redi hanya di bagian dangkal.
Di sungai “etan” rumah Udin dan Redi hampir sama dengan PAGURA di Kediri. Kita bisa memilih kedalaman air untuk “dicibloni”. Udin dan Redi waktu itu sudah bisa berenang saat ciblon di sungai. Bahkan Udin sudah mahir. Buktinya dia bisa berenang gaya kodok. Tangan ke depan... lalu diayuhkan ke samping.... bersamaan dengan itu kaki di pancalkan menyamping...... lalu ke belakang........ Gerakannya antara kaki kiri dan kanan dan tangan kiri dan kanan adalah bersamaan. Teman-teman lain yang bisa berenang juga banyak. Hasyim e bek Parmi, Ali ne lek Samini, Agus e lek Samini, Pras e lek Seh, Deni ne lek Mi, Edi ne bek ti, Opek e mbah Wiji, Aris e lek Ten, dan teman-teman yang lain bisa berenang semua. Kecuali At harul pinisilin dan Ibah.
Teman-teman dari daerah masjid MI Jatirejo, Tenggur, Rejotangan, Tulunggagung, juga datang. Udin dan Redi tidak tahu nama mereka. Yang pasti sungai di timur rumah Udin dan Redi pasti ramai sekali jika banjir datang. Mulai pagi sampai sore hari. Kalau mereka tidak pulang-pulang jika sore datang, orang tua mereka yang akan datang menjemput sambil membawa gepok (alat pemukul). Baru mereka pulang lari telanjang terbirit-birit sampai tidak sempat memakai baju.
Pernah suatu hari saat ciblon mereka terjun dari jembatan. Lalu sebisa mungkin membuat suara percikan air yang sebesar-besarnya. Empat sampai lima anak biasanya terjun bersamaan. Jadi bisa dibayangkan suara yang timbul “jebluuuuurrrrrrr......”
Saking ramainya sungai itu, sampai-sampai di bawah jembatan juga banyak anak yang berenang-renang seperti kodok.
Salah satu kodoknya adalah Agus e lek Samini. Dia berenang dari bawah jembatan menuju ke keluar dari bawah jembatan. Di saat yang bersamaan, Redi sudah bersiap-siap untuk terjun dari jembatan. Pas si Agus keluar dari bawah jembatan, si Redi dari atas terjun pas di atas si Agus. Dan bukan suara jeblur air yang keluar. Melainkan suara punggung tertubruk kaki. Iya, punggung Agus yang sedang berenang seperti kodok terkena kakinya Redi yang tadi terjun bebas dari jembatan.
Langsung saja Agus menangis kesakitan. Dan Redi “ingah-ingih” ketakutan.
He..he..he..
Kapokmu kapaann...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar