4.24.2009

ADUAN

Tuesday, March 17, 2009, 8:11:16 AM

ADUAN

Ya Alloh, mohon petunjukmu. Maafkan kami yang selalu lupa dan berbuat salah. Hati sedang gundah. Pikiran sedang kacau, seperti ada ketakutan akan masa depan. Maafkanlah ya Alloh. Bukannya kami tidak percaya pada keputusanmu. Tolong kami, ikhlaskan hati kami untuk bisa menerima dan menjalani semua ini. Alloh, kami tahu sekali jika hanya ingin yang enak-enak saja. Maafkan kami ya Alloh,

Kami mohon, ingatkan kami selalu padamu. Apa yag kami mau bukan berarti engkau juga mau. Apa yang kami anggap baik, belum tentu engkau anggap baik. Ikhlaskan kami ya Alloh.. dan maafkanlah kami, bimbinglah kami ke jalanmu yang lurus.

Setiap malam kami tidur, setiap pagi kami bangun. Engkau pasti tahu ya Alloh, ketika kami membuka mata kami dan kami tiba-tiba takut menghadapi hari depan karena tidak punya sesuatu untuk dimakan atau untuk dijual. Engkau pasti juga tahu saat uang kami habis dan kami bingung harus melakukan apa. Engkau maha tahu ya Alloh. Semuanya tentang apa yang kami rasakan dan pikirkan.

Sering hari kami terasa hampa ya Alloh. Saat kami terjebak pada dunia. Apa yang kami cari sebenarnya? Harta, kenapa begitu menyilaukan mata. Sedangkan nyatanya harta tidak bisa membuat hati tenang. Alloh, kami memang bodoh. Sadarkan kami ya Alloh, berilah kami petunjuk.

Suatu hari, kami merasa rindu padamu, kami lelah menjalani dunia ini. Berlari untuk hal yang tidak pasti. Harta bukan segalanya. Ya Alloh, kemana lagi kami memohon? Hati kami yang gundah ini berteriak haus ketenangan hati.

Sadarkan kami ya Alloh, bahwa masa depan kami sudah engkau atur. Semua yang akan kami alami sudah engkau atur jauh sebelum kami tahu. Rizki yang engkau berikan, sudah engkau siapkan untuk kami. Kenapa kami masih takut tidak kebagian rizkimu? Kenapa kami masih merasa bahwa kami sendiri? Sedangkan engkau selalu melindungi kami. Selalu memberi kami rizki hingga kami tidak sadar bahwa semua yang ada pada kami adalah termasuk rizki darimu.

Maafkan kami ya Alloh. Maafkan kami.

Pagi ini, dalam subuh kami yang telat, kami memohon tiada henti memohon petunjukkmu dan kekuatan agar kami selalu rendah hati menjalani hidup. Selalu sadar dan ikhlas menjalani hidup.

Maafkan kami ya Alloh, kami masih gundah. Tuntunlah hati kami untuk selalu sabar.
Dekatkan kami padamu ya Alloh..
Hanya engkau tempat kami harusnya memohon dan mengadu.
Karena kami hambamu.
Tolong ya Alloh…
Kami tahu engkau akan menolong kami.
Karena engkau malu tidak mengabulkan permintaan kami.
Maafkan kami ya Alloh..
maafkanlah.....

SISILAH KELUARGA MBAH DJAYUS

BUYUT DARI IBU

HAJI ABUDARDAK + …… .....

MENURUNKAN 9 ANAK.
1. WARISA + NASRI
2. HAJI TAMAN + MUSIYAH
3. KAMSATUN + SALAMUN
4. SANTANA + MUSITUN (CINA KAH?)
5. KASAN GANTENG + KENING
6. DULRAJAK + KIRUL
7. HAJI SIDIK + SAPURAH
8. SUTIJAH + ...................
9. MUSI + HAJI SAYUTI
-------------------------------------------------------------------------------

BUYUT DARI ............

EYANG DEMANG + EYANG IBU

MENURUNKAN 8 ANAK.
1. MAULAN + MILAH
2. KATMI + MODIN TENGGUR
3. TODIMEJA + IMAH
4. KARTO SENTANA +
5. KARLIK + LURAH MUSNGALI
6. RAGIL + MANGUN PANA
7. MUSITUN + SANTANA
8. NGAMAN + ...............
--------------------------------------------------------------------------------

EYANG SENTANA + EYANG MUSITUN

MENURUNKAN 12 ANAK.
1. RUMILAH + MIJA
2. SALI + SIRUS
3. SANDIR + SISUM
4. RUMINI + SOEKARDJO DJAYUS
5. RUMIJAH + WASIDI
6. SAHIT + YATIRAH
7. RUMINAH + MU’IDIN
8. NOTO + ...............
9. SUMARI + NURHAYATI
10. SUKEMI + JINAP
11. JAYA + SITUM
12. RENI + SRIWIYATI

--------------------------------------------------------------------------------

ASAL USUL KETURUNAN MBAH JAYUS

EYANG KROMODJOYO + ....................

MENURUNKAN … ANAK

--------------------------------------------------------------------------------

EYANG DIYONDIKO + EYANG YAKIMAH

MENURUNKAN 2 ANAK
1. YAKIRAH + AMAT RAJI
2. KAMIJAH + WONGSO REJO
--------------------------------------------------------------------------------

EYANG WONGSO REJO + EYANG KAMIJAH

MENURUNKAN 10 ANAK.
1. SUMIRAH + .............
2. RUSLAN + ...............
3. SOEKARDJO JAYUS + RUMINI
4. DJASMAN + KARMILAH
5. MILAH + .................
6. INGKRAM + MARIAH
7. YATIJAH + SIDIK
8. KARMIJAN + KASANAH
9. KARTINI + KAYAT
10. SODJO + KARTI
--------------------------------------------------------------------------------

SOEKARDJO DJAYUS + RUMINI

MENURUNKAN 6 ANAK
1. SOLEH SISWANDI + YATEMI
2. SLAMET ENDRIYONO + NANTI SADEWA
3. WIDJI ENDRIYONO + WAHYUTI
4. JH.SAHARLIK + UMI KUSTINA
5. SUKANI ENDRIYONO + SUTINI
6. SRINATUN + ZAENURI

Setelah melahirkan anak ke enam perempuan, ibu rumini meninggal dunia pada hari Jum’at Pahing, tanggal 2 maret 1962.
Kemudian, tiba selamatan ke 100 hari, Bapak Soekardjo Djayus menikah lagi pada tahun 1962 dengan Ibu Ponirah.


SOEKARDJO DJAYUS + PONIRAH

MENURUNKAN 5 ANAK.
1. MARKINI (MENINGGAL UMUR 2 TAHUN)
2. SEMI ASTUTIK + KAPROWI ABAS (CERAI)
3. MANIS ERNAWATI + SUDIBYO
4. SUCIPTO + NAFIATUL MUSAFAAH
5. IMAM SUHANTO + .............

Bapak soekardjo djayus meninggal dunia pada hari rabu pon, tanggal 3 desember 1980.

CIBLON DI KALI ETAN OMAH

Rabu, March 18, 2009, 9:02:37 PM

CIBLON DI KALI ETAN OMAH

Kalau banjir airnya meluap, kalau kemarau tidak ada airnya sama sekali. Itulah sungai yang terletak di sebelah timur rumah Udin dan Redi. Dulu, waktu kemarau tiba, Pak Sahar, bapaknya Udin dan Redi biasa mengambil tanah dari sungai itu dengan menggunakan ledok (gerobak dorong), lalu tanah itu di urugkan ke halaman rumah. Sehingga tanah di halaman mereka jadi lebih tinggi. Untuk jaga-jaga jika nanti musim hujan tiba air tidak meluap sampai masuk jauh ke dalam halaman rumah.

Udin dan Redi sangat senang jika banjir tiba. Karena mereka bisa bermain di halaman dengan membuat perahu-perahuan dari pelepah pisang, atau membuat perahu dari pohon pisang. Kegiatan mereka jadi lebih banyak. Setelah pulang dari sekolah, dengan penuh semangat mereka berlarian melihat banjir yang tingginya antara mata kaki sampai paha. Mereka juga jadi suka nrutus (menyusuri tempat-tempat yang tidak seharusnya dilewati).

Suatu hari mereka bermain di sebelah utara rumah Ibah. Disana ada air yang mengalir. Tidak dalam airnya, sekitar setengah lutut. Mereka bermain membuat bendungan yang terbuat dari tanah dan batu kecil. Lalu membuatnya sedemikian rupa sehingga apa yang mereka buat seperti asli sebuah bendungan.

Udin dan Redi juga mencari ikan di tempat itu. Walaupun mereka harus sembunyi-sembunyi dulu untuk mengintai apa ada ikan di bendungan mereka. Jika ada, maka mereka akan berlari dengan membawa besek (nampan dari bambu dianyam seperti gedhek) dan mengejar ikan itu untuk disorok ke darat. Jangan sangka ikan yang mereka tangkap besar. Tidak. Mereka hanya menangkap ikan kecil-kecil. Karena memang ikan besar tidak kelihatan waktu itu. Dan kalaupun ada, pasti mereka akan kesulitan untuk menangkap jika hanya dengan alat besek. Ikan yang mereka tangkap adalah ikan bethik, sepat, dan kadang ikan cethol dan sili.

Di hari yang lain, mereka mandi (ciblon) di sungai sebelah timur rumah. Air sungai itu mengalir dari selatan menuju ke utara dengan aliran air yang tidak terlalu deras. Ada berbagai pilihan kedalaman di sungai itu. Mulai yang dangkal sampai yang paling dalam. Yang dangkal berada di bagian selatan, kira-kira dalamnya satu meter. Makin ke arah utara, sungai makin dalam. Hingga sampai pada jembatan. Di bawah jembatan kedalaman mencapai dua meter.

Udin dan Redi suka memilih di bagian yang dalam. Karena mereka sudah bisa berenang. Jadi tidak perlu khawatir tenggelam. Masih ingat dulu waktu Udin dan keluarga berlibur ke pemandian PAGURA Kediri, kolamnya juga dibagi menjadi beberapa pilihan kedalaman. Redi yang belum bisa berenang dengan “ita-itu alias kemlelet alias sok” langsung milih bagian yang lumayan dalam. Tentu saja dia tenggelam. Untung Udin dan Roziq ada di dekatnya. Jadi bisa langsung ditarik dan Udin marahi. Setelah itu Redi hanya di bagian dangkal.

Di sungai “etan” rumah Udin dan Redi hampir sama dengan PAGURA di Kediri. Kita bisa memilih kedalaman air untuk “dicibloni”. Udin dan Redi waktu itu sudah bisa berenang saat ciblon di sungai. Bahkan Udin sudah mahir. Buktinya dia bisa berenang gaya kodok. Tangan ke depan... lalu diayuhkan ke samping.... bersamaan dengan itu kaki di pancalkan menyamping...... lalu ke belakang........ Gerakannya antara kaki kiri dan kanan dan tangan kiri dan kanan adalah bersamaan. Teman-teman lain yang bisa berenang juga banyak. Hasyim e bek Parmi, Ali ne lek Samini, Agus e lek Samini, Pras e lek Seh, Deni ne lek Mi, Edi ne bek ti, Opek e mbah Wiji, Aris e lek Ten, dan teman-teman yang lain bisa berenang semua. Kecuali At harul pinisilin dan Ibah.

Teman-teman dari daerah masjid MI Jatirejo, Tenggur, Rejotangan, Tulunggagung, juga datang. Udin dan Redi tidak tahu nama mereka. Yang pasti sungai di timur rumah Udin dan Redi pasti ramai sekali jika banjir datang. Mulai pagi sampai sore hari. Kalau mereka tidak pulang-pulang jika sore datang, orang tua mereka yang akan datang menjemput sambil membawa gepok (alat pemukul). Baru mereka pulang lari telanjang terbirit-birit sampai tidak sempat memakai baju.

Pernah suatu hari saat ciblon mereka terjun dari jembatan. Lalu sebisa mungkin membuat suara percikan air yang sebesar-besarnya. Empat sampai lima anak biasanya terjun bersamaan. Jadi bisa dibayangkan suara yang timbul “jebluuuuurrrrrrr......”
Saking ramainya sungai itu, sampai-sampai di bawah jembatan juga banyak anak yang berenang-renang seperti kodok.
Salah satu kodoknya adalah Agus e lek Samini. Dia berenang dari bawah jembatan menuju ke keluar dari bawah jembatan. Di saat yang bersamaan, Redi sudah bersiap-siap untuk terjun dari jembatan. Pas si Agus keluar dari bawah jembatan, si Redi dari atas terjun pas di atas si Agus. Dan bukan suara jeblur air yang keluar. Melainkan suara punggung tertubruk kaki. Iya, punggung Agus yang sedang berenang seperti kodok terkena kakinya Redi yang tadi terjun bebas dari jembatan.

Langsung saja Agus menangis kesakitan. Dan Redi “ingah-ingih” ketakutan.
He..he..he..
Kapokmu kapaann...

4.23.2009

BAKSO TUGU RANTE SAMBEL KRUPUK

Kamis, March 19, 2009, 6:09:13 AM

BAKSO TUGU RANTE SAMBEL KRUPUK

Jika aku lewat depan warung itu, sering aku tersenyum mengingat waktu kecil dulu. Sebuah warung bakso di pojok sebelah selatan barat. Tepatnya di perempatan Tugu Rante, Ngunut, Tulungagung. Sampai sekarang warung itu masih ada. Yang dijual juga masih sama, yaitu bakso dan teh dan krupuk. Ada juga jamu beras kencur dalam kemasan botol. Seingatku juga ada minuman jenis teh botol, sprite, dan fanta warna warni. Penjualnya juga masih tetap menggunakan kopyah hitam. Bedanya dia kadang tidak menjaga warung, tapi ada orang laki-laki, sepertinya itu menantunya. Dari mana aku tahu itu menantunya? Soalnya dulu yang aku tahu anaknya bapak penjual bakso itu semua perempuan. Kalau pembantunya juga tidak cocok. Penampilannya tidak seperti pembantu.

Ada warung di sebelah timur warung bakso itu. Dulu jualan es. Orang yang jualan rambutnya putih dan ikal, memakai kacamata, dan kalau malam lampu warung itu hijau. Esnya juga berwarna hijau. Bagiku dulu itu hal yang aneh. Karena ada es warnanya hijau. Maklum, kebanyakan es tahun 80-90 an adalah merah. Tapi warung itu sudah membuat hal yang lain. yang dijual juga es degan dan es blewah. Aku takut kalau melihat penjual es itu. Karena dia tidak pernah memakai celana panjang, jadi selalu memakai celana pendek. Kalau malam tiba, warung yang ramai dikunjungi adalah warung es dan bakso itu. Sehingga terkenal dengan nama bakso tugu rante dan es tugu rante.

Sampai saat aku kelas dua SD. Aku sering ke sana. Tentunya diajak oleh orang tua. Karena orang tuaku yang ada cuma Bapak, aku sering ke sana dengan Bapak. Ibu saat itu masih ke Arab Saudi menjadi TKI. Selain mengajak aku, Bapak juga mengajak Redi dan Ike. Kami selalu senang jika diajak beli bakso di sana. Apalagi redi, dan apalagi aku. Tapi kakakku, Ike kadang tidak senang. Karena dia tidak suka jika Bapak selalu jajan di luar. Bagi aku dan redi itu bukan hal yang perlu dipikirkan. Yang kami pikirkan adalah nanti kuat makan berapa mangkuk bakso.

Bapak sangat suka bakso, aku juga, redi juga. Sehingga kami adalah kumpulan manusia yang klop jika sedang bersama memilih makanan apa yang akan kami beli. Setiap pergi ke ngunut, selalu beli bakso. Bapak kalau makan bakso tidak pernah memakai saos. Dia Cuma pakai kecap dan sambal. Aku tidak tahu kenapa Bapak tidak suka saos. Kalau aku dan redi, kami sangat suka saos. Saking sukanya pada saos, kami sering bermain dengan saos. Ketika bermain perang-perangan, kami ngemut saos. Kemudian pura-pura kena pukul, lalu pura-pura jatuh dan mulut pura-puranya mengeluarkan darah. Darahnya adalah saos merah yang tadi kami emut.

Kalau Bapak sangat suka dengan sambal. Istilahnya kalau belum brengosnya kobong tidak berhenti makan sambal. Aku saja sampek heran, sambal yang dimakan Bapak sepertinya tidak pedas sama sekali. Padahal jika aku coba sambal yang dimakan Bapak pedasnya minta ampun.

Ada kejadian lucu yang akan selalu aku, Redi dan Ike ingat. Dulu, setiap beli bakso di tugu rante, kami selalu makan krupuk. Rasanya gurih, bentuknya kecil. Ukurannya sebesar krupuk emping. Nah... kami sangat suka dengan krupuk itu. Bapak juga suka. Apalagi jika ditambah sambal. Aku sampek mrecing-mrecing ndelok.

Pertama krupuk oleh Bapak dijejer di meja setelah dikeluarkan dari bungkusnya. Lalu krupuk itu diberi sambal pada bagian atasnya. Bukan beberapa krupuk, tapi setiap krupuk diberi sambal. Dan sambalnya juga tidak tanggung-tanggung. Satu krupuk satu sendok sambal. Weleh..weleh...

Aku yang lihat takut sama perutku. Krupuk sekecil itu dengan sambal sebanyak itu. Orang-orang yang melihat juga heran dan mringis-mringis melihat apa yang dilakukan bapak. Tapi seperti biasa, Bapak cuek saja sambil senyum-senyum.

Sekarang, jika aku pergi ke warung bakso itu, aku selalu tersenyum, apalagi jika kesana sama Redi, kami akan tertawa terbahak-bahak mengingat masa kecil yang konyol dan menyenangkan.

AT HARUL PINISILIN

Rabu, March 18, 2009, 6:32:45 AM

AT HARUL PINISILIN

Sarung baru…….
Kopyah baru…….
Sepatu baru…….
Sepeda baru…….
He…he…he….....

Namanya At Harul Muclishin. Anak kecil gembeng (gampang menangis) yang suka pamer. Apapun hal baru yang dia punya pasti teman-temannya dipameri. Dengan sikap khas anak kecil, berusaha menunjukkan yang terhebat. Kalau di film kartun Doraemon, dia itu adalah Suneo si tukang pamer.

Dia punya dekeng (pelindung) yang siap membelanya entah itu dia salah atau benar. Namanya lek Kanah alias neneknya. Sehingga siapa saja yang akan mengerjainya harus menengok ke kiri, ke kanan, dan ke belakang dulu. Jangan-jangan nanti ada neneknya.

Dia juga punya musuh. Diantaranya Redi, Udin, Pras, Edi ne bek ti, dan musuh-musuh yang lain. Redi dan udin selalu merasa At perlu dikerjai. Karena dia sering merugikan mereka. Pernah suatu hari mereka rebutan boneka ajaib yang bisa disuruh apa saja, nama boneka itu IBAH. Sehingga terjadi adegan tarik menarik antara At dan Udin Redi.

Jika At punya sesuatu yang baru, pasti semua tetangga akan tahu, karena dia akan dengan senang hati bersusah payah memberi tahu mereka.

Jika dia mempunyai sarung baru, maka akan dia pakai seperti si unyil, dan akan terus dia pakai kemanapun dia pergi. Meskipun saat itu belum waktunya ngaji, karena ngajinya sore, dia sudah pakai sarung dulu dari siang.

Kemudian, saat kopyah TPA-nya baru, dia juga akan dengan senang hati keliling ke teman-temannya sambil berteriak-teriak “kethu-ku anyar...., kethu-ku anyar...” dan sayangnya, Redi dan Udin yang mengetahui hal itu menjadi pengen juga. Sehingga mereka kadang juga ikut pamer seperti At. Walaupun sebenarnya tujuannya untuk balas dendam. Bukan untuk pamer.

Suatu hari, At dibelikan sepeda Federal warna orange yang sangat kecil. Karena memang waktu itu dia masih TK, maka wajar dibelikan sepeda kecil. Langsung saja dia seperti biasa memamerkannya ke teman-temannya, termasuk ke Redi dan Udin. At belum bisa menaikinya, jadi dia menuntunnya sambil berteriak “sepedahku anyar..., sepedahku anyar....”

He... he... he... Redi dan Udin tambah benci dengannya. Sampai pak Sahar, Ayah Redi dan Udin kena imbasnya. Karena anaknya minta di belikan sepeda juga.
He.. he... he...,
Melek... (pengen juga).

Coba bayangkan,
At memakai sepatu baru merek Pro ATT model debog warna Hitam, berkalung sarung dan dikepala ada kopyah TPA miring sambil naik sepeda tidak di kayuh.
Soale urong iso numpak sepeda.
Sok-sok lek numpak karo nyedit.

He...he...he...
Jaman cilik sing cengoh kabeh!!!
Jan cengooooh... cengoh.
Ha..ha..ha...

BELI PENTOL

Rabu, March 18, 2009, 6:03:43 AM


BELI PENTOL


Pentol adalah salah satu jajan kesukaanku. Saat aku kelas satu SD (tahum 1990-1991), setiap hari aku membeli pentol. Harganya waktu itu masih murah. Satu biji Rp.25. ada seorang penjual pentol dari madura. Dia seorang laki-laki. Aku sangat suka pentol yang dia jual. Rasanya enak, dimakan waktu masih panas dan beruap setelah dicelupkan ke dalan saus atau kecap kacang..

Uang saku yang ku punya waktu itu hanya Rp.50. jadi aku harus mengatur bagaimana agar uang itu cukup untuk jajanku. Padahal di sekolah, banyak sekali para penjual jajan. Mulai dari pentol, ote-ote (weci), sari buah, cenel, sompel, jajan kemasan (snack), mainan-mainan, dan lain-lain. jadi uang Rp.50. waktu itu tidak begitu besar dan tidak begitu kecil.

Jika uangku habis aku akan minta kakakku, Ike, yang saat itu kelas tiga. Jika dia lagi baik hati, aku dikasihnya. Jika dia tidak punya, aku minta ke Bapak. Kebetulan Bapak salah satu guru di SD ku. Tapi ya gitu, kadang aku sama Bapak dikasih dan kadang tidak. Itupun aku harus menunggu agak lama di ruang guru. Dan harus menahan malu, karena ada banyak guru yang melihat dan tanya-tanya. Sehingga minta uang ke Bapak adalah alternatif terakhir dan jika benar-benar terpaksa.

Ketika pelajaran berlangsung, aku sering melihat keluar, kehalaman sekolah. Melihat para penjual jajan dan mainan yang berjejer di sepanjang pagar tembok setinggi perut orang dewasa. Rasanya ingin cepat waktu istirahat tiba dan segera berlari menghambur ke arah para penjual itu. Sayangnya aku masih ada pelajaran. Alasanku bisa keluar hanya jika ingin meraut pensil, maka aku bisa keluar kelas menuju tempat sampah di teras depan kelas.

Pentol.....
Kenapa aku sangat suka dengan makanan ini? Sampai sekarang, setelah 18 tahun berlalu, aku masih suka dengan pentol. Walaupun ada yang mengatakan dengan istilah beda, tapi bentuknya tetap sama. Ada yang mengatakan cilok. Itu di daerah Malang. Awalnya aku tidak tahu apa itu cilok. Ternyata cilok tidak jauh beda dengan pentol.

TIDAK SUKA PELAJARAN AGAMA

TIDAK SUKA PELAJARAN AGAMA

Saat itu aku kelas satu SD. Baru menginjak bangku SD rupanya membuatku memilki perasaan baru juga. Kalau di bangku TK aku biasanya hanya main-main, di SD aku mulai diajari beberapa pelajaran. Ada matematika, bahasa indonesia, bahasa daerah, agama dan lainnya. Aku juga diajari menulis.

Guru kelas satu ku adalah Bu Yati. Sekarang Bu Yati sudah meninggal. Tepat saat idul fitri tahun 2008 kemarin. Bu Yati adalah sosok yang sabar dan telaten. Walaupun kadang juga marah jika melihat muridnya yang nakal. Pelajaran yang aku paling ingat dari dia adalah pelajaran menulis. Dulu dia kalau mengajar menulis, maka akan menulis di papan tulis kayu warna hitam dengan kapur tulis warna putih, dan meminta muridnya untuk menulis ulang di buku masing-masing.

Pelajaran menulis pertama yang masih aku ingat adalah seperti ini;

Budi

B – u – d – i

Bu – di

Budi

Dengan membawa penunjuk kayu, Bu Yati akan mengajak kami untuk membaca tulisan budi. Dia akan mengatakan;

Buu..di
Be.. uu.. de... ii..
Be.. uu.. bu
de... ii..di
Buu..di

Lalu kami mengikuti apa yang dikatakan Bu Yati dengan penuh antusias. Setiap huruf yang kami ucapkan, hingga menjadi kata, dan akhirnya kami membaca kalimat. Dan bisalah kami membaca paragrap. Hingga lama-lama kami bisa membaca cerita dalam satu buku. Tentunya tidak saat itu juga. Mungkin setelah aku kelas enam ke atas aku bisa membaca cerita satu buku sampai selesai.

Kalau kita lihat proses di atas, akan kita temukan, semua dimulai dari hal yang kecil. Untuk melakukan hal yang besar, kita harus mulai dari hal yang kecil. Mari kita berterima kasih kepada guru kita. Terlebih lagi guru SD kita (berarti aku juga harus berterima kasih kepada bapakku). Guru SD ibaratnya yang telah membuka hutan pengetahuan kita yang tertutup. Bagaimana dengan guru SMP dan selanjutnya? Kita juga harus tetap berterima kasih. Mereka yang meneruskan usaha dari guru SD.

Pelajaran lain yang tidak bisa aku lupa adalan pelajaran Agama Islam. Nama gurunya adalah Bu Saroh (Siti Usaroh). Orangnya cantik, karena pas ngajar aku dia masih muda. Tapi aku takut dengan dia. Suaranya kalau berteriak lantang. Pandangan matanya tajam dan menakutkan diriku yang masih berumur tujuh tahun. Setiap pelajaran agama pasti ada yang namanya membaca tulisan arab. Saat itu aku belum bisa sama sekali membaca tulisan arab, sedangkan teman-temanku sudah ada yang bisa. Yono, Andi, Ruroh, Waroh, Desi dan beberapa teman yang lain sudah bisa. Ada juga teman-teman yang tidak bisa seperti aku. Namun rupanya kebisaan mereka dalam baca tulisan arab telah menciutkan nyaliku dan membuatku tidak bersemangat jika ada pelajaran agama. Apalagi, makin lama pelajarannya menurutku makin sulit. Aku jadi tersiksa. Setiap hari senin aku takut untuk masuk sekolah. Karena setelah upacara bendera pelajaran pertama adalah pelajaran agama.

Apa yang membuatku tidak semangat dengan pelajaran agama ya?
Tidak bisa dalam pelajaran itu hal yang biasa. Kenapa aku bisa takut seperti itu. Seakan pelajaran agama adalah momok yang wajib untuk dihindari. Apa ini karena guru yang mengajarnya ya? Bisa juga iya. Yang kurasakan waktu itu, aku takut dengan pelajaran Agama, dan juga dengan Bu Saroh.

Akhirnya rasa takutku bisa aku hilangkan setelah aku kelas lima. Aku tidak takut lagi mengikuti pelajaran Bu Saroh. Walaupun masih belum bisa lancar membaca tulisan arab.