2.04.2009

ORANG TUAKU JUGA TIDAK

Rabu, 4 Pebruari 2009, 06:55

ORANG TUAKU JUGA TIDAK

Merencanakan apa yang akan dilakukan adalah bukti bahwa kita memang ada di dunia ini. Melakukan rencana dengan sadar dan berusaha yang terbaik adalah ciri bahwa kita orang yang bertanggung jawab. Mensyukuri hasil dari usaha maksimal kita adalah cermin bahwa kita orang yang berpeluang masuk surga. Selalu mengingat Tuhan dalam semua proses hidup kita merupakan sinyal bahwa kita sangat disayangi oleh Tuhan. Rendah hati dan sabar dalam setiap keadaan yag ada di hadapan kita adalah bukti bahwa kita akan disukai oleh banyak orang. Selalu tersenyum dan menolong, akan mendatangkan bahagia lahir dan batin. Bahagia lahir, terpancar dari senyum kita, bahagia batin, bisa kita rasakan ketika kita bisa menolong orang yang membutuhkan.

Pelajaran kemarin memberiku pemahaman, memang kita harus sabar dan semampu kita melihat dari sudut pandang orang lain. Dalam hati, kita ingin mempunyai banyak teman, ingin disukai oleh banyak orang. Namun kenapa sikap kita malah menunjukkan bahwa kita adalah orang yang tidak patut untuk disenangi?

Kritik adalah perlu. Walaupun aku tidak sepenuhnya setuju dengan ini. Katakan saja evaluasi diri. Kata ini lebih ramah rasanya. Baik, mari kita ganti kata kritik dengan kata evaluasi.
Kita akan tahu apa yang perlu ditingkatkan dari kita setelah kita dievaluasi oleh orang lain. Dengan catatan kita rendah hati dulu. Agar nanti siap dengan apapun hasil dari apa yang disampaika oleh si pengevaluasi. Tidak perlu kita menyanggah atau memberi alasan kenapa kita begini dan begitu. Ini membuktikan kita belum siap dievaluasi. Kita cukup katakan terima kasih. Tidak lebih.

Apabila orang lain lebih baik dari kita, jadikan ini motivasi yang positif. Kita bisa seperti dia. Cukup katakan dalam hati saja. Jika saat ini kita merasa bukan apa-apa, sabarlah. Walaupun setiap hari hanya makan mie instan, baju kuliah hanya beberapa potong. Janganlah itu jadi penghambat kita untuk maju dan berkembang. Semua orang punya hak untuk sukses. Entah itu anak orang kaya atau miskin.

Sayangnya dari banyak contoh yang kulihat, mereka yang sudah sukses mencapai yang diinginkan, disengaja atau tidak telah melupakan pentingnya melek agama. Mereka menuntut anak-anak mereka untuk sukses, punya kerja yang menjamin dan kaya. Anak-anak mereka sangat pintar fisika, matematika, kimia, bahasa inggris dan pelajaran UAN lainnya. Sayangnya, mereka tidak mengajari anak mereka untuk mengaji, belajar fiqih, tauhid dan jembatan ke surga lainnya. Dan sayangnya lagi, orang tuaku juga tidak.

Aku baru sadar.
Hai pembaca, mau kemana lagi?
Pangkat jabatan dan harta tidak kita bawa mati. Setiap hari dalam hidup hanya permusuhan yang menambah dosa.
Pantaskah kita mengharap surga Tuhan? Padahal tujuan kita setelah mati adalah surga itu. Bukan jabatan dan harta benda.
Di surga tidak ada seminar, tidak ada bangun pagi karena takut telat. Tidak ada rekening sewa yang menyusahkan.
Kenapa kita seakan buta?
Ngaji....
Belajar agama lagi...
Mumpung ada waktu.Menyesal selalu di belakang.

Tidak ada komentar: