Kamis, 19 Februari 2009, 7:21:18 AM
KEMBALI KE TUHAN
Pagi ini mataku dan pikiranku sedang mendung. Seperti cuaca sekarang yang sedang mendung pagi-pagi. Baru saja aku terima kabar bahwa salah satu guru BEC Pare meninggal dunia. Beliau adalah pak Agus Damanhuri. Orang yang murah senyum dan tidak pernah marah. Postur tubuhnya agak pendek, kepala botak bagian depan, dan kulit hitam manis.
Pak Agus meninggal jam tiga pagi tadi, kabarnya karena serangan stroke. Begitulah, umur manusia siapa yang tahu sampai berapa lama. Orang yang bisa dikatakan masih belum tua sudah mendahului yang lebih tua. Kita tidak bisa menerka-nerka kapan akan mati.
Satu lagi rasa keterikatan yang kuat aku lihat di sini. Dulu ketika reuni tanggal lima syawal, semua alumni berkumpul melepas rindu. Seakan ikatan itu sangat erat. Sehingga bisa dikatakan kita adalah saudara. Dan rasa serta kesannya sangat membekas tertancap dalam di dalam hati.
Pagi ini kembali aku lihat lagi ikatan kekeluargaan itu. Ungkapan kepedulian yang tercermin dari perbuatan yang seakan secara spontan terlakukan. Berita meninggalnya pak Agus Damanhuri telah tersebar kemana-mana. Alumni BEC ada di seluruh Indonesia, sangat mungkin juga ada di belahan dunia lain, di luar Indonesia.
Berita sangat cepat tersebar. Setiap angkatan seakan mempunyai koordinator sendiri untuk memberi informasi kepada teman-temannya. Dan seperti efek domino. Kabar tersebar dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit. Itulah kehebatan tekhnologi. Namun, betapa hebatnya tekhnologi, semua tergantung dari orang yang menggunakannya. Bagi kami para alumni BEC, semua hal yang berhubungan dengan BEC adalah sangat penting. Karena BEC adalah rumah kami. Tempat kami menemukan hal baru, tempat kami belajar, dan tempat orang tua kedua kami berada, Pak Kalend. Seorang panutan yang sederhana, tegas dan disiplin.
Kalau kami menganggap berita dari BEC adalah tidak penting, tidak mungkin berita-berita itu bisa menyebar dengan cepatnya. Meskipun kami punya alat canggih. Jadi semua tergantung dari orangnya.
Semoga Pak Agus mendapat tempat disisi Tuhan. Karena, kami selalu melihat beliau dalam keadaan menyenangkan semua orang. Walaupun dulu aku bukan murid beliau, setidaknya aku punya kesan yang baik terhadap beliau.
Hal seperti ini jarang terjadi. Tak kenal tapi sayang.
Selamat jalan Pak Agus Damanhuri.
Kami mendoakan yang terbaik untuk Bapak.
KEMBALI KE TUHAN
Pagi ini mataku dan pikiranku sedang mendung. Seperti cuaca sekarang yang sedang mendung pagi-pagi. Baru saja aku terima kabar bahwa salah satu guru BEC Pare meninggal dunia. Beliau adalah pak Agus Damanhuri. Orang yang murah senyum dan tidak pernah marah. Postur tubuhnya agak pendek, kepala botak bagian depan, dan kulit hitam manis.Pak Agus meninggal jam tiga pagi tadi, kabarnya karena serangan stroke. Begitulah, umur manusia siapa yang tahu sampai berapa lama. Orang yang bisa dikatakan masih belum tua sudah mendahului yang lebih tua. Kita tidak bisa menerka-nerka kapan akan mati.
Satu lagi rasa keterikatan yang kuat aku lihat di sini. Dulu ketika reuni tanggal lima syawal, semua alumni berkumpul melepas rindu. Seakan ikatan itu sangat erat. Sehingga bisa dikatakan kita adalah saudara. Dan rasa serta kesannya sangat membekas tertancap dalam di dalam hati.
Pagi ini kembali aku lihat lagi ikatan kekeluargaan itu. Ungkapan kepedulian yang tercermin dari perbuatan yang seakan secara spontan terlakukan. Berita meninggalnya pak Agus Damanhuri telah tersebar kemana-mana. Alumni BEC ada di seluruh Indonesia, sangat mungkin juga ada di belahan dunia lain, di luar Indonesia.
Berita sangat cepat tersebar. Setiap angkatan seakan mempunyai koordinator sendiri untuk memberi informasi kepada teman-temannya. Dan seperti efek domino. Kabar tersebar dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit. Itulah kehebatan tekhnologi. Namun, betapa hebatnya tekhnologi, semua tergantung dari orang yang menggunakannya. Bagi kami para alumni BEC, semua hal yang berhubungan dengan BEC adalah sangat penting. Karena BEC adalah rumah kami. Tempat kami menemukan hal baru, tempat kami belajar, dan tempat orang tua kedua kami berada, Pak Kalend. Seorang panutan yang sederhana, tegas dan disiplin.
Kalau kami menganggap berita dari BEC adalah tidak penting, tidak mungkin berita-berita itu bisa menyebar dengan cepatnya. Meskipun kami punya alat canggih. Jadi semua tergantung dari orangnya.
Semoga Pak Agus mendapat tempat disisi Tuhan. Karena, kami selalu melihat beliau dalam keadaan menyenangkan semua orang. Walaupun dulu aku bukan murid beliau, setidaknya aku punya kesan yang baik terhadap beliau.
Hal seperti ini jarang terjadi. Tak kenal tapi sayang.
Selamat jalan Pak Agus Damanhuri.
Kami mendoakan yang terbaik untuk Bapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar