Sore ini mulai hujan deras. Sebelumnya hanya mendung tanpa hujan. Saat melihat air jatuh ke tanah, kenangan masa lalu muncul. Sensasi kedamaian dan kesendirian yang sulit diungkapkan menyapa jiwa yang kering. Kembali hati basah. Rasa basah, dan pikiran ikut basah. Bau tanah basah, bau genteng basah memberi kebahagiaan. Ketenangan, kebahagiaan, dan rasa aman. Bau itu juga yang membawa ke suatu tempat khayalan, antara setengah nyata dan tidak, bahwa diri berada di suatu tempat asing yang damai dan tenang. Jauh tidak terjamah. Tiada masalah dan gelisah.
Saat mendung menyelimuti bumi, dan air turun dengan soraknya, seakan waktu ini terhenti. Pohon-pohon khidmat menikmati siraman langit yang tiada tara. Tak ada angin, hanya pohon-pohon terpaku dalam senyum pengharapan. Begitu juga dengan diri. Terpaku melihat kenikmatan dari Tuhan untuk disyukuri.
Lena ini tak bisa ditolak. Begitu damai, tenang, dan membahagiakan. Tiada bosan diri mengulangi kata-kata itu. Damai, tenang dan membahagiakan.
Jangan bersedih....
Tuhan tidak kejam.
Dia maha penyayang.
Semoga besok hujan lagi. Agar diri bisa mengenang masa kecil yang damai, tenang dan bahagia.
Hujan itu indah. Karena hujan anugerah.
Syukurilah....
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar