Thursday, June 11, 2009, 8:03:54 AM
Penantian panjang bus cepat yang berjalan melewati halte yang sepi.
Hingga seperti tertidur lelap dan tidak sadar akan eksistensinya.
Di halte itu pernah aku menantikan dan merindukan datangnya bus yang tidak kunjung datang untuk berhenti walaupun untuk sekejap. Hingga aku merasa lupa jika aku sedang menanti bus. Lupa bahwa aku punya harapan dari bus tersebut untuk bisa menjemputku dan mengantarkanku ke tujuan.
Atau mungkin aku telah putus asa untuk menanti bus itu. Mungkin juga kekurang pahamanku menyikapi situasi itu. Karena ada banyak kemungkinan dan alasan kenapa bus tidak kunjung datang waktu itu.
Kebiasaan akhirnya menjadi hal yang biasa. Hati yang peka menjadi tumpul tidak perasa. Rasaku dulu, bus itu tidak membutuhkanku. Seorang penumpang yang menanti di halte sepi dengan penuh harap. Pagi, siang, sore dan malam, mendongak ke jalan aspal yang hitam pekat dan kasar. Mengharapkan datangnya sebuah bus harapan.
Iya, bus harapan satu-satunya.
Apa boleh dikata. Peluh, air mata, kerinduan yang terasa selama itu telah merubah semua itu sendiri menjadi suatu ketumpulan hati. Seakan tidak sadar dan terasa tidak terjadi apa-apa. Masalah menjadi tidak masalah. Dan akhirnya masalah tetaplah masalah.
Proses. Semua karena proses.
Atau lebih tepat kita sebut waktu. Semua pada akhirnya ditentukan oleh waktu. Biarlah waktu yang berbicara. Jika waktu sudah berbicara, maka itulah jawabnya.
Setelah waktu berbicara, semua seakan baru. Teka-teki bus yang tidak kunjung datang terjawab oleh waktu. Bus itu kini menantiku di halte sepi yang aku tinggalkan dulu. Pagi, siang, sore dan malam menantiku.
Waktulah yang berbicara pada akhirnya. Aku sudah terbiasa berjalan, karena memang harus bisa berjalan sendiri. Merasa bisa berlari walaupun terseok-seok.
Tanpa sadar timbul pikiran tidak butuh bus itu lagi karena dulu sudah lelah menanti. Namun, ternyata bus cepat itu menantiku dengan penuh harap.
Bus cepat itu membutuhkanku. Para penumpangnya sudah tiba di tujuan kecuali aku. Waktulah yang berbicara.
Ternyata bus itu masih memikirkanku.
4u mom
Penantian panjang bus cepat yang berjalan melewati halte yang sepi.Hingga seperti tertidur lelap dan tidak sadar akan eksistensinya.
Di halte itu pernah aku menantikan dan merindukan datangnya bus yang tidak kunjung datang untuk berhenti walaupun untuk sekejap. Hingga aku merasa lupa jika aku sedang menanti bus. Lupa bahwa aku punya harapan dari bus tersebut untuk bisa menjemputku dan mengantarkanku ke tujuan.
Atau mungkin aku telah putus asa untuk menanti bus itu. Mungkin juga kekurang pahamanku menyikapi situasi itu. Karena ada banyak kemungkinan dan alasan kenapa bus tidak kunjung datang waktu itu.
Kebiasaan akhirnya menjadi hal yang biasa. Hati yang peka menjadi tumpul tidak perasa. Rasaku dulu, bus itu tidak membutuhkanku. Seorang penumpang yang menanti di halte sepi dengan penuh harap. Pagi, siang, sore dan malam, mendongak ke jalan aspal yang hitam pekat dan kasar. Mengharapkan datangnya sebuah bus harapan.
Iya, bus harapan satu-satunya.
Apa boleh dikata. Peluh, air mata, kerinduan yang terasa selama itu telah merubah semua itu sendiri menjadi suatu ketumpulan hati. Seakan tidak sadar dan terasa tidak terjadi apa-apa. Masalah menjadi tidak masalah. Dan akhirnya masalah tetaplah masalah.
Proses. Semua karena proses.
Atau lebih tepat kita sebut waktu. Semua pada akhirnya ditentukan oleh waktu. Biarlah waktu yang berbicara. Jika waktu sudah berbicara, maka itulah jawabnya.
Setelah waktu berbicara, semua seakan baru. Teka-teki bus yang tidak kunjung datang terjawab oleh waktu. Bus itu kini menantiku di halte sepi yang aku tinggalkan dulu. Pagi, siang, sore dan malam menantiku.
Waktulah yang berbicara pada akhirnya. Aku sudah terbiasa berjalan, karena memang harus bisa berjalan sendiri. Merasa bisa berlari walaupun terseok-seok.
Tanpa sadar timbul pikiran tidak butuh bus itu lagi karena dulu sudah lelah menanti. Namun, ternyata bus cepat itu menantiku dengan penuh harap.
Bus cepat itu membutuhkanku. Para penumpangnya sudah tiba di tujuan kecuali aku. Waktulah yang berbicara.Ternyata bus itu masih memikirkanku.
4u mom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar