Moh. Daenuri
Sudah selayaknya kita punya pemahaman untuk mengungkap rahasia kematian. Yang ternyata mati adalah habisnya masa pakai jasad untuk dijadikan kembali ke tempat asalnya yang dibatasi oleh umur. Mati adalah pasti akan ditemui oleh setiap kita dan ada cara menjalaninya. Yang tentunya dengan ilmu yang menunjukkan pintunya mati., sekaligus ilmu yang menunjukkan asal kejadian manusianya. Sebagaimana ayat Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Karena mati yang tidak melalui pintunya mati dinamakan mati sesat. Mati yang tidak dapat kembali ke asalnya. Dan yang berkewajiban menunjukkan pintunya mati itu, di dunia hanya satu saja. Dan dialah Rosul-Nya di bumi yang haq dan sah yang tidak bakhil untuk menunjukkan dan mengarahkan serta membimbing hamba-hambanya yang berkehendak bertemu dengan Tuhan.
Kematian yang datangnya hanya sekali saja, merupakan pintu gerbang awal perjalanan panjang setelah kehidupan di dunia ini. Apakah matinya Husnul khotimah, yaitu dapat pulang kembali kepada-Nya dengan selamat dan bahagia bertemu dengannya lagi, sebagaimana diterangkan dalam firman ALLOH, yang wajahnya berseri-seri karena kepada Tuhannya melihat. Atau Suul Khotimah, yakni mati yang tidak dapat kembali kepada-Nya lagi, merasakan betapa ngerinya berada dalam kesesatan dan menjadi rebutan wadya balanya jin dan iblis yang mengajak sesat selamanya ke tempatnya. Tempat yang telah disiapkan oleh Tuhan guna membalas atas perbuatan buruknya ketika di dunia. Menjadi bangkai yang tidak ada harganya. Unsur kejadian manusia yang seharusnya kembali ke tempatnya masing-masing, tidak dapat kembali sebagaimana mestinya. Jasad busuk, roh sirna, ati ngadam, dan rasa yang kembali kepada-Nya kembali.
Untuk dapat kembali harus melalui satu pintu sebagaimana diterangkan diatas. Kalau tidak melalui pintu yang benar, dan itu satu-satunya pintu yang dapat dilalui, maka sudah pasti tak dapat masuk. Pada saat demikian, iblis dan wadya tentaranya siap menerima dan mengajak ke tempat mereka. Telah diterangkan dalam firman Tuhan di surat As-Saba’ ayat 51 yang artinya “dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kufur) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat) maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke meraka.)”
Keadaan yang demikian itu sering diungkapkan dalam kata-kata jawa sebagaimana pada judul diatas, DEBOK BOSOK LEYAK LEYOK. Judul tersebut mensiratkan bahwa jasad setelah habis masa pakainya, ternyata tidak ada harganya. Yang tadinya bisa apa-apa tatkala di dunia, setelah mati menurut saja diapa-apakan. Akan menjadi lebih tidak berharga sama sekali jika matinya tidak dapat kembali kepada-Nya. Betapapun tinggi pangkatnay di dunia, betapapun banyak gelarnya di masa hidupnya.
Bukankah lebih baik jauh dari dunia akan tetapi mendapat ridho dan hidayah Tuhan? Meskipun tetap berdunia sebagaimana layaknya manusia.
Oleh karena itu, tentu seharusnya menjadi pemikiran kita semua yang kebetulan membaca tulisan ini, menjadi sarana terbukanya hati dan pemahaman kita untuk berfikir dari mana asal dan kemana kita akan kembali dan bekal apa yang harus disiapkan sebagai sarana kembali itu.
Semoga menjadi renungan.
Sumber; Majalah Pahingan Tasawuf Plus “AFKAAR”, edisi 91/juni/2009/hal 27.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar