7.04.2009

SEJARAH TULUNGAGUNG


Dalam Bahasa Kawi, Tulungagung berarti ‘sumber air besar’. Tulung berarti sumber, dan agung berarti besar. Dulunya merupakan daerah kecil yang terletak di sekitar tempat yang saat ini merupakan pusat kota (alun-alun).

Tulungagung adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Tulungagung dibatasi oleh Kabupaten Blitar di sebelah timur, Kabupaten Trenggalek disebelah barat, Kabupaten Kediri di sebelah utara dan Samudra Hindia di sebelah selatan. Secara administratif, Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. Kecamatan tersebut adalah Bandung, Besuki, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pagerwojo, Pakel, Pucanglaban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, Tanggung Gunung, Tulungagung.

Secara topografik, Tulungagung terletak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (dpl). Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman. Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Kidul. Di sebelah barat laut Tulungagung, tepatnya di Kecamatan Sendang, terdapat Gunung Wilis sebagai titik tertinggi di Kabupaten Tulungagung yang memiliki ketinggian 2552 m. Di tengah Kota Tulungagung, terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali Brantas dan seolah membagi Kota Tulungagung menjadi dua bagian: utara dan selatan.

Dulunya, Tulungagung merupakan daerah yang berawa-rawa, yang terkenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan, terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, dengan candra sengkala “Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa” yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi Tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada Dwan Ri Lawadan Tken Wisaya, atau dikenal dalam cerita sebagai Dandang Gendhis. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan Majapahit, yang berujung pada invasi Mojopahit ke Bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut Kalangbret dikecamatan Kauman.

Di Jaman penjajahan jepang, Tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa Tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut sekarang dijadikan PLTA Tulungagung.

Sentra industri dan makanan

Tulungagung sekarang terkenal sebagai sentra industri kerajinan marmer dan batu onyx. Sentra industri ini terdapat di selatan Tulungagung, terutama di Kecamatan Campurdarat, yang di dalamnya banyak terdapat perajin marmer. Batu-batuan marmer dan onyx tersebut selain bersumber dari Tulungagung sendiri, juga di datangkan dari daerah lain, seperti Bawean, sebuah pulau yang masuk wilayah kabupaten Gresik. Bawean dikenal sebagai pemasok batu onyx yang memiliki kualitas baik dan relatif lebih tua dari segi usia.

Selain industri marmer, di Tulungagung juga tumbuh dan berkembang berbagai industri kecil dan menengah yang kebanyakan memproduksi alat-alat/perkakas rumah tangga. Seperti batik dan konveksinya, bordir Garmen, busana muslim, sprei, sarung bantal, rukuh dan sebagainya. Di Kecamatan Ngunut terdapat industri peralatan TNI dengan standart NATO seperti tas ransel, sabuk, dan lainnya. Begitu juga makanan ringan seperti kacang atom dan lain-lain.

Selain itu, juga terdapat banyak makanan khas Tulungagung. Makanan tersebut barangkali tak akan mudah di temukan di daerah lain, seperti: lodho ayam, nasi pecel, sompil, dan jajanan semisal kacang Shanghai, geti, jongkong, ireng-ireng, sredeg, cenil, plenggong. Ada juga minuman khasnya, seperti: kopi cethe, wedang jahe sere, dawet camcao, rujak uyub, dan beras kencur.

Cerita Wisata dan Seni

Sebenarnya, Tulungagung memiliki banyak potensi pariwisata yang bisa diandalkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Sayangnya, masih banyak potensi pariwisata yang belum tergarap secara baik oleh Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Meski demikian, industri pariwisata di Tulungagung cukup berkembang dengan objek wisata andalan seperti Pantai Popoh yang terletak di Kecamatan Besuki.

Tulungagung diuntungkan dengan letak geografis yang berada di tepi Samudera Hindia, sehingga memiliki banyak pantai yang menarik untuk dikunjungi selain Pantai Popoh, di antaranya Pantai Sidem, Pantai Brumbun, Pantai Sine, Pantai Molang, Pantai Klatak, Pantai Gerangan, dan Pantai Dlodo.

Selain objek wisata pantai, Tulungagung juga memiliki objek wisata alam lain, di antaranya Air Terjun Lawean di Kecamatan Sendang, Coban Alam di Kecamatan Campurdarat, Gua Selomangleng di Kecamatan Boyolangu, serta Gua Pasir di Kecamatan Sumbergempol. Di utara Tulungagung, objek wisata alam yang terkenal adalah Pesanggarahan Argo Wilis, Perkebunan Teh Penampean, serta Bendungan Wonorejo.

Beberapa situs peninggalan zaman baheula berupa candi menjadi pelengkap obyek wisata di Tulungagung, seperti Candi Gayatri yang terdapat di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit di masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya = bahaya, alang = penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan beliau.

Di bidang seni, Tulungagung memiliki beberapa kesenian khas yang bisa dijadikan magnet untuk mengangkat pariwisata Tulungagung, di antaranya: Jaranan sentherewe , Reog Tulungagungan, Tiban, Jedor, Kentrung, Manten Kucing. Kesenian jaranan dan reog tulungagungan bahkan mendapat dukungan yang luas dari mayoritas masyarakat Tulungagung untuk maju dan berkembang.

Berbeda dengan reog Ponorogo, reog Tulungagung tidak dilengkapi dengan dadak merak. Sebuah sumber mengatakan reog Tulungagung biasanya terdiri dari 6 orang penari dengan membawa dan menabuh kendang. Masing-masing diiringi dua kenong dengan dua nada dan satu gong.

Kelompok-Kelompok Kesenian Tulungagung biasanya memproduksi VCD kesenian mereka secara indi label. Sehingga kalau ada yang menginginkan referensi tentang kesenian-kesenian di Tulungagung, bisa dengan mudah mendapatkannya di pasar-pasar daerah, seperti pasar tulungagung.

Ketoprak ‘Siswo Budoyo’ adalah contoh kelompok kesenian asli Tulungagung yang dulu sangat terkenal dan cukup melegenda. Namun, seiring perjalanan waktu kelompok kesenian ini pun akhirnya surut. Sampai kini belum ada yang bisa menggantikannya. (dari berbagai sumber)

Khalid Wahyudin, Bumi Pasir, Maret 2008

RAJA YANG RELA MENJADI TUKANG KEBUN


Ibrahim bin Adham adalah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya. Oleh karena kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak membawa ketenangan kepada jiwanya, baginda raja akhirnya memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa dengan mengambil upah sebagai tukang kebun.

Kebun yang dijaga oleh baginda itu ada banyak pohon delimanya. Dia menjaga kebun itu dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun dan meminta Ibrahim membawakan sebuah delima yang masak dan manis. Ibrahimpun segera ke pohon-pohon delima untuk mencari buah delima yang paling masak.

Ketika tuannya merasakan buah delima tersebut, wajahnya berubah mengernyit. Kemudian berkata “Wahai Ibrahim, tolong bawakan kepadaku sebuah delima lagi yang lebih manis” sekali lagi Ibrahim mencari buah delima yang lain tanpa mengetahui mengapa tuannya menyuruh dia membawakan sebiji lagi.

Setelah buah kedua yang diberikan kepada tuannya itu dicoba dirasakan, dengan spontan buah itu dibuang oleh tuannya.

Tuannya marah karena buah yang kedua ternyata masih masam juga. “ Wahai Ibrahim, heran sekali aku melihat engkau. Sudah begini lama engkau menjaga kebunku, tidakkah engkau tahu yang masam dan yang manis?” tanya tuannya dengan kasar.

Lalu Ibrahim menjawab dengan suara yang lembut dan sopan, “Tuanku, bukankah saya ini diberi tugas untuk menjaga kebun supaya senantiasa subur dengan buah-buahan, tetapi tuan tidak memberi keizinan kepada saya untuk merasa buahnya”

Betapa terkejut tuannya itu mendengar jawaban Ibrahim. Dia tidak menduga betapa besar sifat amanah yang ada pada tukang kebunnya itu.


Sumber; Majalah Pahingan Tasawuf Plus “AFKAAR”, edisi 91/juni/2009/hal 44.

KOMENTAR

Duh gusti, seandainya semua pegawai di semua instansi dan apapun tempat dia bekerja seperti Ibrahim, pasti Indonesia tidak butuh KPK. Atau bahkan tidak tahu apa KPK itu. Karena tidak pernah ada.

Korupsi memang seperti sirup. manis dan membuat ketagihan. Melakukannya bisa dengan cara mudah, enteng. Seenteng selembar kertas. Lha wong tinggal mgoret-ngoret kertas alias tanda tangan saja. Duit datang sendiri.
Korupsi kuwi podho karo nilep.
Podho karo ndelekne, teros diuntal alias diemplok. Mboh ngemplok e bareng-bareng utowo ijen jeneng e yo pancet korupsi.


Elingo ae he wong sing tau korupsi.. (termasuk sing nulis)

Mboh kowe pejabat utowo buroh utowo kuli, bupati, polisi, PNS, swasta, pelajar, mahasiswa lan kabeh liyo liyane.

Intine, mulai teko wong cilik sampek wong gedhe.
Elingo ae yoo..
Gusti Alloh maha adil.
Mesti enek balesan e mbesok. Mboh neng ndonya utowo aherat.
Tunggunen ae.
(sing neng ndonya balesane wis tak rasakne.)


Opo kowe ora ngerti, Duit satus repes, lek golek e ora bener yo pancet ora berkah.
Mulo, sing ati-ati lek golek duit.
Sumber e piye, carane golek piye.
Kuwi kudu didelok.
Ojo ethok-ethok picek matamu kuwi.
Duit harom dianggep halal.

Rejeki duduk teko nggone bosmu. Bosmu kae mekgor dalan utowo selang sing ngeterne. Lha sumber rejeki kuwi teko gusti ALLOH, sing nentokne selang endi sing diweneh tugas ngeterne rejekine kanggo awake dewe. Lek jenenge sumber, berarti yo sing ngetokne, metu terus ora entek-entek. Soale jenenge sumber.
Yo pora?

Pikiren, sumber mekgor sitok. Selang e jan uakeh banget.
Lek awak e dewe percoyo marang gusti ALLOH sampek neng ati, ora mekgor neng cangkem thok, berarti wis iso dijamin urip e wong iku aman. Minimal ora mati keluwen/kaliren.
Lek e luwih yakin meneh marang gusti, awak e dewe oleh bonus. Yokuwi tentrem e ati.
Urip lek e wis iso ngambah tentrem e ati, berarti kuwi sing jenenge sejatine urip sing tenanan.

Tentrem e ati ora mergo bondho akeh.
Tapi cedhek marang gusti.
Duh gusti nyuwon ngapuro lekne kulo supe terus...

.

DEBOK BOSOK LEYAK LEYOK

Moh. Daenuri


Sudah selayaknya kita punya pemahaman untuk mengungkap rahasia kematian. Yang ternyata mati adalah habisnya masa pakai jasad untuk dijadikan kembali ke tempat asalnya yang dibatasi oleh umur. Mati adalah pasti akan ditemui oleh setiap kita dan ada cara menjalaninya. Yang tentunya dengan ilmu yang menunjukkan pintunya mati., sekaligus ilmu yang menunjukkan asal kejadian manusianya. Sebagaimana ayat Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Karena mati yang tidak melalui pintunya mati dinamakan mati sesat. Mati yang tidak dapat kembali ke asalnya. Dan yang berkewajiban menunjukkan pintunya mati itu, di dunia hanya satu saja. Dan dialah Rosul-Nya di bumi yang haq dan sah yang tidak bakhil untuk menunjukkan dan mengarahkan serta membimbing hamba-hambanya yang berkehendak bertemu dengan Tuhan.

Kematian yang datangnya hanya sekali saja, merupakan pintu gerbang awal perjalanan panjang setelah kehidupan di dunia ini. Apakah matinya Husnul khotimah, yaitu dapat pulang kembali kepada-Nya dengan selamat dan bahagia bertemu dengannya lagi, sebagaimana diterangkan dalam firman ALLOH, yang wajahnya berseri-seri karena kepada Tuhannya melihat. Atau Suul Khotimah, yakni mati yang tidak dapat kembali kepada-Nya lagi, merasakan betapa ngerinya berada dalam kesesatan dan menjadi rebutan wadya balanya jin dan iblis yang mengajak sesat selamanya ke tempatnya. Tempat yang telah disiapkan oleh Tuhan guna membalas atas perbuatan buruknya ketika di dunia. Menjadi bangkai yang tidak ada harganya. Unsur kejadian manusia yang seharusnya kembali ke tempatnya masing-masing, tidak dapat kembali sebagaimana mestinya. Jasad busuk, roh sirna, ati ngadam, dan rasa yang kembali kepada-Nya kembali.

Untuk dapat kembali harus melalui satu pintu sebagaimana diterangkan diatas. Kalau tidak melalui pintu yang benar, dan itu satu-satunya pintu yang dapat dilalui, maka sudah pasti tak dapat masuk. Pada saat demikian, iblis dan wadya tentaranya siap menerima dan mengajak ke tempat mereka. Telah diterangkan dalam firman Tuhan di surat As-Saba’ ayat 51 yang artinya “dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kufur) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat) maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke meraka.)”

Keadaan yang demikian itu sering diungkapkan dalam kata-kata jawa sebagaimana pada judul diatas, DEBOK BOSOK LEYAK LEYOK. Judul tersebut mensiratkan bahwa jasad setelah habis masa pakainya, ternyata tidak ada harganya. Yang tadinya bisa apa-apa tatkala di dunia, setelah mati menurut saja diapa-apakan. Akan menjadi lebih tidak berharga sama sekali jika matinya tidak dapat kembali kepada-Nya. Betapapun tinggi pangkatnay di dunia, betapapun banyak gelarnya di masa hidupnya.

Bukankah lebih baik jauh dari dunia akan tetapi mendapat ridho dan hidayah Tuhan? Meskipun tetap berdunia sebagaimana layaknya manusia.

Oleh karena itu, tentu seharusnya menjadi pemikiran kita semua yang kebetulan membaca tulisan ini, menjadi sarana terbukanya hati dan pemahaman kita untuk berfikir dari mana asal dan kemana kita akan kembali dan bekal apa yang harus disiapkan sebagai sarana kembali itu.

Semoga menjadi renungan.

Sumber; Majalah Pahingan Tasawuf Plus “AFKAAR”, edisi 91/juni/2009/hal 27.

.